Rasanya Lega…..

BlogItemURL> http://www.ucuagustinprosa.blogspot.com

Seperti baru melahirkan, mungkin.

Rasanya lega

Lega yang lengkap meski belum sempurna

semua kegiatan itu,

merenda malam dengan kata-kata yang berlarian dari tiap paragraph dalam halaman novel,

mengejar maksud yang tak tertangkap pada teks dan mendudukkannya dalam bahasa yang tepat,

menggunting kalimat tak perlu,

menempelkan data yang seharusnya ada tapi justru tak ditulis,

membuat jembatan antara alur cerita dengan logika,

memperlembut transisi tiap jalinan kisah dengan jalinan kisah lainnya,

tetap menjaga orisinalitas dan gaya si penulis,

meleburkan diri dalam karakter dan mencoba memahaminya,

mengikuti dengan cermat penempatan baris-baris kata dalam lay out yang dikerjakan dengan sangat terampil oleh seorang teman,

mencoba membuat jeli mata dan terus-terusan berusaha tetap “kritis” pada ejaan supaya tidak kecolongan titik koma dan hurup kecil besar,

berlari-lari dalam taksi antara utan kayu dan kantor koran tempo pada malam rintik hujan untuk kemudian berusaha tak terlihat takut saat mencegat taksi di daerah Velbak yang terkenal rawan…

Tapi ah…

akhirnya selesai juga

Editing yang melelahkan telah tuntas meski berakhir pada hasil yang tak begitu sempurna

Masih ada kesalahan pada beberapa tempat

baris-baris kalimat yang tidak menjorok ke dalam padahal seharusnya, iya.

titik yangtak muncul ketika page maker di printe dalam mesin cetak laser

sandi-sandi aneh yang muncul saat file dicetak tapi sama sekali tak terdeteksi dalam tampilan teks komputer, dan lain-lain hal yang terpaksa bikin kelimpungan.

Satu margin saja terketuk ke bawah

satu huruf saja berubah

maka perubahan global akan menggelombang dan merubah seluruh rancangan buku yang telah disusun.

Bukan karya tulisanku yang diterbitkan

karya orang yang diterbitkan oleh penerbitan kami yang dibikin atas modal gotong royong dan sedikit uang.

tak banyak berharap

hanya mencoba bekerja

mewujudkan ide

merealisasikannya menjadi nyata

kerja keras itu,

semoga akan terbayar kelak

meski sekarangpun telah terbayar oleh kelegaan yang mendera saat prosesnya terasa hampir ramping sempurna.

Hhhm…

Novel “Ini Dia, Hidup” tinggal menunggu keluar dari percetakan dan kemudian diluncurkan

bagian paling beratnya, menentukan label harga jual

bagian paling mendebarkan, menunggu tanggapan dari public (semoga ada)

bagian paling komersil: menunggu laba bisa menutup dan syukur-syukur menambah modal penerbitan

Sumpah,

rasanya seperti orang yang baru melahirkan

(mungkin ye, gue kan belum pernah hamil and punya baby)

🙂

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

Leave a comment