Batik, Sebuah Perjalanan Yang Membuat Saya Kesengsem..

Hari ini Senin malam, tanggal 18 Juli 2011. Di luar sana dibalik tembok kamar ini, di kotak televisi 21 inci (milik teman serumah saya Vero), news masih saja ribut soal Nazaruddin yang tak kembali pulang dari Singapura. Masih saja ribut juga tentang bini si ketum partai demokrat Anas Urbaningrum yang nerima projectan dari BUMN. Langit di luar jendela udah sehitam jelaga, dan saya untuk pertamakalinya. akhirnya menulis juga tentang perjalanan ini di blog yang baru dibuat detik tadi. 
Perjalanan luar biasa tentang batik yang dimulai melalui sebuah telepon dari si ibu produser Nia Dinata. 
Rasanya sayang saja siyh bila tak membuat semacam catatan (meski sederhana) tentang perjalanan riset trip batik kami. Perjalanan yang mengenalkan saya pada sebuah pengetahuan dan cinta baru akan suatu hal yang telah lama ada tapi baru teliti saya agak ketahui. Perjalanan yang (melalui banyak hal) membuat saya yang tak tahu akan batik menjadi terjerat oleh  semacam demam. Sebuah rasa kesengsem yang belum berupa cinta yang dalam tapi mungkin masih seperti proses ketika seorang dara atau seorang tuan muda mulai tertarik  pada sang lawan jenis yang awalnya masih terasa sebagai benda alien lalu perlahan seiring waktu,  mulai menyukainya dan ingin tahu atau ingin lebih banyak ngobrol guna menggali informasi dan mengetahui dunia apa di seberang sana yang dialami dan dimilikinya… 
Bila boleh dilukiskan, cintaku sekarang pada batik seperti cinta yang masih cair belum lagi pejal. Seperti saat orang mulai suka yang agak lebih dari suka agak deket ke naksir tapi belum terjatuh terlalu dalam dalam pelukan halusinasi. Ini masih tahap terpukau. Mengagumi. Belum lagi cinta yang lagi seperti kecintaan para kolektor yang saya liat dan saksikan sendiri.
Batik adalah kain biasa sebelumnya. Tak terlalu cocok untuk dipakai orang-orang dengan kepribadian seperti saya. Terlalu resmi, terlalu khas (tanpa menyebutnya tradisional – sebab saya suka makanan tradisional). Terlalu ‘berkarakter’, mungkin itu penamaan yang lebih tepat, barangkali. Batik bagi saya sebelumnya adalah kain yang terlalu berkarakter.
Saya tidak suka karakter yang terlalu jelas. Sesuatu yang terlalu jelas rasanya terlalu mapan. Terlalu status quo. Dan yang seperti itu bukanlah jenis hal yang membuat saya tertarik. Para pemakainya pun,  dalam keseharian saya melihat mereka, menurut saya adalah orang-orang yang membosankan (entah dari mana asumsi itu mendatangi kepala saya), tapi begitulah yang terjadi…  Nia Dinata menghubungi saya. Meminta saya untuk menjadi periset dan penulis. Sebuah dokumenter batik yang disponsori perusahaan jepang menanti di sana.
BATIK? Saya bertanya dalam hati.
APA YANG SAYA KETAHUI TENTANGNYA?
Saya melirik ke lemari saya… 

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

Leave a comment