Sepenggal Daphne (Di Udara Gloomy *Istambul – Antiochia)


Namaku Daphne
Dan aku adalah kisah lama.

Aku seorang peri sebelum bentukku berubah menjadi pohon.
Namun ingatanku sangat tajam dan ia menerobos masuk ke kedalaman hutan-hutan lama di Antiochia.

Akulah sumber kehidupan
Sang permata
Mahkota kebanggaan antiochia – tempat asalku bermula.

Aku tumbuh dewasa di pegunungan, sendiri dan penyendiri
Aku kecil tapi aku sangat keras
Sebegitu kerasnya hingga dedaunanku selalu hijau sepanjang waktu

Aku tak bisa dimakan juga tak mungkin diminum
tapi bau, daun, dan bebuahanku adalah kejaiban yang memiliki keniscayaannya sendiri-sendiri
Melimpahkan kecantikan;
Menguarkan kenanangan yang ranum dalam;
Sebagaimana masa lalu yang telah kuberitahu padamu bahwa dulunya aku adalah peri…

Apollo sang anak Zeus mencintaiku,
Sebegitu mencinta-nya hingga ia mengejar-ngejarku

Aku berlari ke kedalaman hutan, melalui pohon-pohon anggrek dan bunga meadows. Melalui danau dan menginjak rerumput liar. Sesaat sebelum akhirnya Apollo berhasil menyentuh dan menangkap tanganku, aku meminta pertolongan pada bumi;

“Oh Ibu Bumi, oh…” ratapku.
“Lindungi aku, sembunyikan aku, kasihi aku…”

Doaku didengar dan jadilah aku sebatang pohon.
Kakiku menjdai akar
tanganku menjadi dahan
rambutku menjadi daun

Apollo, kutahu ia bersedih.
Tapi cintaku yang tiada tak memiliki rasa yang sama
Cintaku yang tiada tak memiliki rasa sedih sedalam duka apollo untuk kehilanganku di hatinya

Ia menjadikanku mahkota untuk menghias kepalanya
Meletakkan cintanya padaku di atas rasionya

Dan sejak saat itu…
Aku menjadi mahkota yang telah diletakkan di atas banyak kepala para pahlawan.

Nah sekarang wahai kawan dan para kekasih…,
Saatnya aku memahkotai kota kelahiranku sendiri: Antiochia

Dan bila kau menjejakkan kaki di sana; di kotaku – maksudku…, hiruplah aku.
Lalu aku akan turut menyusup di bau tubuhmu

Catatan di atas pesawat dari Istambul menuju Madrid, 2 Juli 2012
[dan pawai gay pride menanti kami di Madrid sana]
___________________

*ucu setelah lama tak menulis.

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

Leave a comment