Pramoedya 5 Tahun, 5 Bulan Yang Lalu… [Film Pertama]

Harusnya film dokumenter ini bukan film pertama yang saya bikin. Desember 2005 DEATH IN JAKARTA memenangkan short documentary script development competition di Jakarta International Film Festival [JIFFEST] dan sudah selayaknya-lah saya memproduksi film tersebut pada awal tahun 2006. Inilah yang harusnya jadi film pertama saya.
Tapi kematian yang lain meminta untuk lebih dulu di-capture. Kematian dari bukan sembarang orang. Kematian mulia seorang keras kepala yang sampai kini masih menjadi icon bagi banyak anak muda yang mematut paham kebebasan serta menjura pada gaya hidup kritis terhadap penguasa. Siapa yang tak kenal Pramoedya? 

Akhir april 2006 di rumah sakit st. Carolus saya berjumpa lagi dengan Pram setelah sebulan sebelumnya bersama Andreas Harsono saya bertemu dalam kunjungan di Bojonggede. Andreas sedang membuat buku, saya sedang rajin-rajinnya mendokumentasikan gambar. Satu bulan adalah waktu yang cukup untuk mengubah segalanya. Keadaan kini telah berbeda. Di Carolus, tak ada lagi nyanyian “waktu hujan sore-sore…”  yang disenandungkan begitu saja lelaki mantan penghuni  Pulau Buru itu saat melihat air langit jatuh ke tanah pada sore hari di halaman rumahnya yang luas si ujung bogor sana. di UGD Carolus, dalam selimut muram berbau kematian, saat itu saya berpapasan dengan hari-hari terakhir pramoedya. Hari yang murung dengan wajah-wajah yang dihantui khawatir dan cemas dari Oma, Mbak Titi, keluarga… Hari-hari yang telah berlalu 5 tahun 5 bulan dari waktu ini saat sekarang…
[Oma (almarhumah ibu siti maemunah) tampak selalu cemas terutama pada saat keluarga harus mengambil keputusan apakah akan meneruskan pemakaian alat bantu nafas atau justru akan melepasnya dari pramoedya]
[Mbak Titi, anak pertama Pram dari pernikahan dengan Oma; Si Pram bergender perempuan]
[Vicky dan Rova, dua cucu di antara banyak cucu Pram yang turut menunggu di Carolus waktu itu]
[Capek sekali ya Oma….?]
[Anda kenal siapa yang berkacamata itu?]
[Ah Pram… kamu selalu saja menambatkan ingatan saya
pada kebebasan bahkan di saat terkahir sekalipun!]
Pramoedya Ananta Toer terus hidup sampai kini walau ia sudah mati. Racun yang disebarkan melalui jejari yang menuliskan saripati nalar nan tak bisa dikerangkeng oleh penjara besi dan kekuasaan itu terus bermutasi dan berkecambah,  hidup subur di benak dan dada banyak orang. Tak henti menari. Membuat kita selalu ingin berteriak: Di dada ini, kamu tak pernah mati Pram!
 ——————

Di Bawah ini, adalah foto-foto Behind The Scene film dokumenter Bab Akhir Pramoedya

[untuk menghindari masuk dalam frame kamera tapi untuk tetap bisa mendapatkan suara,
posisi jongkok ini adalah posisi yangpaling sering saya lakukan selama merekam Bab Akhir Pramoedya]
[Yulius, DoP cabutan yang membantu pembuatan film dokumenter ini.
Dengan kamera kecil itulah kami merekam hari terakhir orang besar]
[Mamash, Camera Person juga mencakup sound man yang kerap gantian dengan saya :D]
[kalau lagi nggak ada Mamash, ya saya dungs yang rekam]
[kata pak koesalah, “pram sudah mendapat firasat..]
[(almarhum) Oei Hai Djoen dan Koesalah Toer]

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

Leave a comment