More Convincing Than Print!


Several days ago, Engage Media a website,  a non-profit media, technology and culture organisation which use the power of video, the internet and free software technologies to create social and environmental change. http://www.engagemedia.org/ interviewed me and asked some question that still take a require thinking in advance to answer  (even untill now ..)

I could not hasten to answer their questions, but eventually I had to do it. And after re-reading the interview, think about how the the condition of  the book right now (many bookstores are closing, sales explosion in Ipad and Samsung Galaxy Tab at Ambasador mall), as well as the forecast future (in 2003) about the end of the heyday of print media that will soon happen… Its all made me totally more confident on the step I have taken: audio visual, more convincing than the print media!
This is the coverage!
____________
Beberapa hari lalu Engage Media, sebuah website, sebuah organisasi non profit yang menggunakan  teknologi dan berbasis budaya, http://www.engagemedia.org/ menanyakan beberapa pertanyaan yang untuk menjawabnya harus memerlukan pemikiran terlebih dahulu (sampai sekarang pun masih siyh terus dipikirkan..)
Saya tak bisa bersegera menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, tapi akhirnya saya harus melakukannya juga. Dan setelah membaca kembali interview tersebut, memikirkan tentang bagaimana nasib buku sekarang dan banyaknya toko buku yang tutup, meledaknya penjualan Ipad dan Samsung Galaxy Tab di mal ambasador, serta melacak balik jejak ramalan trend media ke depan (yang waktu itu telah dilakukan pada tahun 2003) tentang berakhirnya masa kejayaan media cetak yang akan segera terjadi… rasanya sekarang saya jadi benar-benar lebih yakin pada jalan yang telah saya ambil;


Audio visual, lebih meyakinkan dari pada media cetak!


Di bawah ini versi tanya jawab yang dilakukan by email antara saya dan EM:



Name: 




Ucu Agustin

Age:

35 tahun (19 agustus 1976)

Location:
Jakarta

About:
Writer/Director/Filmmaker

Video history:
(ada di attchment)

Recent work:
Conspiracy of Silence/ Konspirasi Hening






1.Tell us who you are as a filmmaker.

saya menganggap diri saya sebagai pengendus cerita yang mencoba membaginya untuk siapa saja yang punya waktu buat melihat dan mendengar. ada banyak isu dibalik cerita-cerita tersebut. cara menceritakan kembali cerita serta isu yang didapat melalui media audio visual, adalah salah satu tantangan yang berat. setiap isu dan cerita kadang membutuhkan cara bercerita yang berbeda. membagi cerita dan berharap bisa berkontribusi pada cara pandang baru dalam melihat sebuah isu, itulah yang saya inginkan sebagai documentary filmmaker.



2. How did you come to video as a medium? Why do you work with the moving image?

sejak kuliah di semester 6 saya mulai menulis. cerita-cerita pendek dan artikel tentang perempuan. lulus dari kampus, cerita-cerita pendek saya telah banyak dimuat di koran nasional dan membuat saya percaya diri untuk menjadi kontributor di sebuah majalah berita dan jurnalisme (PANTAU), saya juga menjadi jurnalis radio untuk Kantor Berita Radio 68H. sayangnya, medium printing (cetak) dan cara teks membawakan dirinya untuk tampil di depan pembaca, bagi saya terasa kurang meyakinkan. editing di sana sini, membawa jarak antara mata pewarta di lapangan yang diwakili lewat tinta, semakin menjauh dari pembaca. ada terasa space yang sangat lebar terbentang antara realita dalam cerita di kejadian sesungguhnya dengan realita yang ditulis dalam laporan reportase yang dilaporkan jurnalis di media cetak. tanpa bantuan foto, kadang berita teks juga kurang meyakinkan. itulah kenapa saya mulai tertarik untuk bergelut dengan audio visual, terutama documentary. dalam dokumenter, keakuratan juga fakta adalah hal yang sangat dibutuhkan. termasuk di dalamnya masih bisa diimbuhkan emosi dan penyosokan yang kuat untuk membuat sebuah isu dan cerita terasa semakin dekat dan meyakinkan. kekuatan riset, tak dielakkan menjadi kunci dalam pembuatan documentary. audio visual khususnya dokumenter, bisa membawa para penyimak (baca; penonton) untuk langsung melihat dan merasakan sendiri keadaan  di lapangan dan cerita yang terjadi pada karakter.


3. What are the main issues you address in your video work? 

Isu yang sering saya angkat adalah isu perempuan, sosial justice, human right.


4. What radicalised you as a filmmaker – 
or how did you come to work with these issues?
 Did it happen in the moment, or was it a process?

(*haha, pertanyaan yang lucu)
Saya pikir saya membuat film dengan cerita dan isu yang saya ketahui dan saya tertarik padanya. saya tak berani membuat sesuatu yang tak saya ketahui dan sangatlah akan sulit membuat ratusan orang lainnya tertarik pada film yang saya bikin bila saya sendiri tidak tertarik pada cerita atau isu di dalamnya. saya perempuan dan selama hidup saya, saya mengalami menjadi perempuan, jadi, memiliki empati dan simpati terhadap isu gender sudah pasti adalah merupakan nature saya. terlibat di dalam penggarapan isu ini adalah merupakan partisipasi saya dari menjadi manusia. Pendidikan serta encounter dengan banyak hal yang berkenaan dengan demokrasi, politik, dan masyarakat, juga mungkin menjadikan saya sangat aware dan sensitif bila berkenaan dengan sesuatu yang sifatnya tidak adil. saya percaya, semua manusia bisa menjadi manusia. dan untuk menjadikan manusia sebagai mahluk yang setara adalah hal yang selalu, dan sedang, saya, juga banyak orang lain lakukan di muka bumi ini… 

Jadi menurut saya, bergelut dalam isu-isu yang selama ini saya garap merupakan konsekuensi menjadi manusia yang berproses aja siyh…. *hihi. halah! – jangan diterjemahkan yang hihi halah ya yerryyyy :D*


5.
Among other, many of your work’s emphasize around health issue, Tell us more about it?

Conspiracy Of Silence adalah feature doc pertama saya dan kebetulan isu yang diangkat adalah tentang permasalahan kesehatan. sebelumnya, saya pernah mengangkat isu yang berkenaan dengan perempuan HIV positif  dan dunia stigma yang harus mereka hadapi dalam ‘Kartini Bernyawa 9’. 

6. Tell us about your favourite piece of video you have made, in regards to social justice or environment.

Saya suka ‘Death in Jakarta’, salah satu film awal yang saya bikin. Ketidak-adilan sosial dan keberbedaan kelas ternyata terbawa sampai seorang mati dan meninggalkan bumi ini. Ragat’e Anak juga salah satu yang saya senangi, proses yang sulit dalam mendekati subyek karena banyak sekali para lelaki  di sekitar para perempuan pekerja seks yang menghalangi saya untuk melakukan encounter langsung membuat saya benar-benar sadar bahwa di luar saya, kesenjangan gender dan ketidakadilan masih terjadi. Consipracy of Silence juga membuat saya semakin terhenyak. masih banyak yang harus dilakukan bila ingin membuat keadilan terjadi di ini negara.

7. How do you think online distribution is changing the field of independent
video making? How do you use online tools in your work?

Distribusi online membuat karya-karya independen yang tak memiliki budget untuk distribusi, menjangkau penonton yang lebih banyak, itu keuntungan yang tak ternilai bagi indie filmmaker seperti saya. penonton bisa menemukan filmnya dan film bisa menemukan penontonnya. Sejauh ini saya menggunakan distribusi online untuk mempromosikan dan menyebarkan video dan film yang saya bikin.

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

Leave a comment