Hhmm… Rasanya berat kalau sekarang menuliskan ini dan mengingat apa yang telah dilakukan untuk membuat rencana tersebut (target-target yang dibikin di tahun 2010 untuk dikerjakan di tahun 2011) terwujud, dan pada akhirnya…. tetap tak berwujud, terutama yang berkenaan dengan Conspiracy Of Silence
Conspiracy Of Silence adalah satu project yang sangat emosional bagi saya. Untuk pertamakalinya saya membuat feature film yang sesungguhnya setelah 7 kali membuat film baik durasi pendek maupun durasi sedang. Saya sebut satu persatu ya…
- Bab Akhir Pramoedya (2006)
- Death In Jakarta (2006)
- Kartini Bernyawa 9 (2007)
- Perempuan Kisah Dalam Guntingan (2008)
- Yang Belum Usai (2008)
- Ragat’e Anak /Antologi AT STAKE (2008)
- Waktu Itu: Januari 2008 (2009)
- Conspiracy Of Silence (2010)
CONSPIRACY OF SILENCE adalah film dokumenter yang didanai grant dari JFCC – Jakarta Foreign Corresponedents Club. 90 juta rupiah, bukan uang yang sedikit tapi juga ternyata sedari awal saya sudah tahu itu bukanlah jumlah uang yang banyak untuk bisa produksi selama 8 bulan plus 2 bulan editing. Kekurangan terjadi di sana-sini. Mana ada uang sisa untuk rodashow kan?
Untuk produksi saja, itu harus benar-benar berstrategi.
Tahun 2010 bulan April ketika menerima tawaran dari JFCC dan menerima hibah untuk produksi film dokumenter ini, saya tahu JFCC hanya berharap akan membikin film pendek berdurasi sekitar 20-30menit. Saya sendiri juga tahu kalau uang sejumlah itu tak akan cukup untuk produksi sebuah dokumenter panjang. Tapi kalau untuk membuat film dengan uang sendiri? Mana mungkin saya mampu…
Jadi, grant atau hibah untuk independen documentary filmmaker seperti saya, seberapapun jumlahnya, pastilah sebuah anugerah. Kesempatan untuk berkarya dan mengeksplore pengalaman baru lagi kan? Kesempatan besar untuk membuat hal yang semoga berguna untuk komunitas dan bisa dipakai untuk berbagai macam keperluan seperti advokasi dan siapa tahu bisa menggugah orang… Adalah bonus pula kalau ada sampai terjadi, bisa menggugah keadaan untuk suatu perubahan.
Nah, ada tawaran untuk produksi macam ini dari JFCC… Kenapa tidak?
Kapan lagi?
Tentang Durasi, nantilah kita lihat apa yang terjadi berdasarkan riset di lapangan! Begitu pikir saya.
Hanya saja tema yang diminta oleh JFCC adalah: KESEHATAN!
Lebih fokus lagi: MALPRAKTEK!
Hmm… kepala saya saat itu agak pening saja dibuatnya. Tema seperti itu tak mudah untuk diolah. Garing. Dan saya harus berpikir keras bagaimana cara untuk membuatnya menjadi lebih bisa ditonton. Enak dan tetap bisa dinikmati.
Itulah yang paling pertama saya kemukakan pada tim saya saat pertamakali bertemu muka dengan orang-orang yang saya taksir untuk saya masukkan dalam kabinet tim produksi saya; “Tantangannya kali ini, kita harus se-keratif mungkin mengolah isu kesehatan, ini” itu ucap saya.. Juga tentu, kepada mereka saya juga cerita kondisi keuangan yang sangat morat-marit. Tak ada yang saya rahasiakan dalam pendanaan. Semua tim saya bisa bebas melihat dan mengaksesnya. Saya memang ingin menggagas sesuatu yang semacam: “SETARA PRODUCTION”. Karena dalam mengerjakan proyek, saya selalu tak pernah mau: bekerja untuk, selalu yang saya maui adalah: bekerja sama. Semua crew adalah setara, termasuk sang pemilik project.
Saya mau tim saya bekerja sama dengan saya. Saya tidak mau mereka merasa bekerja untuk saya. NO! BIG NO! Dan salah satu caranya adalah dengan melakukan transparansi. Bila saya membutuhkan kejelasan, saya pikir orang lain juga sama. Saya nggak mau picik. Begitu kita ingin diperlakukan sama orang, begitu pula lah kita harus memperlakukan orang. Jadi, untuk bisa mengerjakan proyek ini dengan maksimun, saya pikir saya harus melakukan manajemen transparan. Setara Production.
Orang pertama yang saya temui untuk saya rekrut dalam project ini adalah Nina Desilina. Ia biasa mengerjakan film layar lebar dan program TV. Saya pertamakali bertemu Nina di Project Kalyana Shira Foundation. Dia kerap menjadi Line Producer. Saya meminta bantuan dia untuk menjadi line produser saya kali ini. Menerangkan padanya beberapa keinginan, kondisi real keuangan, serta tahapan kreatif yang saya mau, adalah urutan-urutan yang saya terangkan. Nina bersedia, kini tinggal bagaimana mengakali budget dan menghubungi crew. Biar bagaimanapun dia adalah Line Produser. Tangan kanan Produser saya Nia Dinata dan Orang kepercayaan saya yang pada waktu itu juga saya merangkap sebagai Co-Produser.
Goen Guy Goenawan adalah DoP yang kami incar. Nina telah bekerjasama dengannya untuk PROJECT CHANGE! Kalyana Shira. Foundation. Saya sudah lama kenal Goey tapi belum pernah bekerjasama. Goey orangnya kalem, kerjanya oke, dan selalu sangat akomodatif plus excited pada isu. Saya merasa beruntung ketika Goey akhirnya mau bergabung dalam tim produksi COS dengan keterbatasan budget yang sejak semula sudah kami terangkan padanya.
Hal yang lucu dan terus terang selalu saya ingat sampai kini ketika menggarap project COS, adalah bagaimana kami saling berpegangan tangan bersalaman dengan membuat satu sumpah. Sumpah untuk tak membocorkan fee kami masing-masing ke orang lain karena begitu sedikitnya honor yang kami dapat. Ahahahaha.
Kami kan nggak mau booo… ketahuan orang lain sebenarnya honor kami berapa dalam project ini hingga lalu orang menghargai kami seperti bayaran kami di produksi COS. Hihi.

Ini moment yang emosional, membanggakan dan juga mengharukan. Bagaimana komitmen membuat kami bisa bekerja dan terus melalui banyak kesulitan dengan tetap kompak dan solutif tanpa perduli budget. Meski kalau mau jujur, bagaimanapun juga, keterbatasan dana memang membuat kami jadi tidak leluasa: Nina merangkap jadi line produser, supir dan juga si dermawan yang mendiskon dengan sangat murah mobilnya untuk kami pakai wara-wiri kemanapun ketika produksi. Goey kerap kecapekan karena tuntutan saya yang banyak, terutama masa riset dan produksi yang penuh kecerewetan. Plus saya yang harus merangkap begitu banyak jabatan padahal tugas utama adalah harus fokus di kreatif film: penulis-sutradara, co-produser, post produser dan semua schedule plus penanganan sirkulasi keuangan yang hampir semuanya harus ditangani saya juga bersama Nina.

Tak saya lupakan tentu saja peran besar si teteh atau Nia Dinata. Dia yang sejak awal membuatkan budget untu produksi COS dan mengajukannya ke JFCC yang semula hanya bersedia memberi 75juta saja. Teteh selalu menjadi mentor yang manis tapi juga tegas. Setiap kami kesulitan dengan story di lapangan, saya selalu bisa kembali padanya dan meminta pendapat profesional. Ketika rencana story kreatif kita mentok karena keadaan real di lapangan sebagaimana yang biasa terjadi dengan produksi film dokumenter, kami bisa selalu meminta waktu si teteh dan duduk bersama di Kalyana. Membicarakan solusi kreatif dan ketika meeting selesai, pemecahan sudah didapat. Nia Dinata , bagi saya adalah teman, mentor, juga produser kreatif yang menyenangkan dan selalu antusias dan siap dengan back-up story di lapangan meski dia cuma mendengar cerita dari data yang kami laporkan.
Dalam kolaborasi produksi Conspiracy Of Silence ini, Gambar Bergerak sebagai label tempat saya secara independen biasa bekerja sebagai pribadi, menjadi tim produksi filmmaking dari sejak kreatif, ide cerita, riset, pra, produksi, sampai post. Sedangkan Kalyana Shira Foundation dalam produksi ini menjadi supporting dengan urusan utama: memberi pinjaman equipment, online post-produksi, plus distribusi bila film ini kelar nanti. Dalam project COS ini, Nia Dinata menjadi produser sekaligus melakukan supervisi kretaif terhadap apa yang saya dan tim saya saya kerjakan.
Sangat Capek Tapi Jadi Mengerti…
Mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana arti CONSPIRACY OF SILENCE bagi saya: Sangat bikin capek tapi membuat saya jadi Pede.
Seperti yang ditulis di awal tulisan ini, Isu kesehatan bukanlah isu yang gampang untuk dibuat. Saya sendiri sempat hampir ingin menolak penawaran grant ini karena isunya.
Kesehatan?
Apa yang bisa dibikin dari isu garing ini?
Demikian pikiran sempit saya waktu itu berkata-kata.
Isu pendidikan, isu perempuan, isu anak, isu HAM, cerita yang penuh dengan human interest… itu semua terdengar seksi dan banyak yang bisa dieksplorasi, tapi isu kesehatan? Apa yang bisa membuat isu ini jadi menarik?
Itu terus yang menghantui saya selama pembuatan kreatif filmmaking COS. Bagaimana saya sebagai pembuatnya, bisa membuat sebuah film yang menarik untuk ditonton ratusan orang lainnya jika saya sendiri tidak tertarik terhadap isunya? OMG! *tepok jidat deh saya!*
Saya bilang pada Jason (Tedjasukmana) dari JFCC, saya ingin riset dulu. Saya meminta waktu dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan dan bagaimana isu itu bisa ditangani secara kreatif dalan film nantinya. Jason setuju, Teh Nia setuju. Jason cuma minta satu hal: film ini harus kritis, karena ini adalah film yang didanai oleh club journalist. Menjadi journalist adalah selalu menjadi kritis terhadap isu. Saya setuju dengan kritis, tapi saya tidka setuju dengan ide cover both side yang menjadi salah satu prinsip kerja journalisme. Saya bilang, kita sedang membuat film dokumenter, dan dokumenter bisa sangat subyektif dan boleh berpihak, keberpihakan saya sebagai pembuat adalah pada para korban, saya tak akan banyak melakukan pengambilan gambar ke pihak kedokteran. The Nia menengahi: Yup! Film ini akan kritis, subyektif, kreatif, tetap enak ditonton. Kita semua angguk kepala dan sepakat serta setuju dalam satu hal: dalam film bertema kesehatan ini nanti, kalau bisa, mencari karakter baru dan bukan memilih karakter yang sudah populer dan sudah diangkat oleh media massa seperti kasus prita. Kita harus menemukan ‘sesuatu’
Kasus prita adalah memang inspirasi bagi semua, kita mendukungnya, tapi kita harus mencuatkan lebih banyak lagi kasus kesehatan selain kasus prita saja. Setiap hari dokter yang melakukan kegiatan medis tak bertanggung jawab, selalu ada. Itu terlihat dari berita-berita di koran kuning, juga di berita-berita di televisi, dan itu artinya, banyak sekali kasus kesehatan tak bertanggung jawab yang terjadi di Indonesia sini. Kita cari : “yang itu!”
Dan untuk mencari yang “Yang Itu!” tersebut, tidaklah mudah dan ternyata sangat melelahkan.. meski di akhir proses, saya merasa, karena proses tersebutlah saya jadi kuat danlebih mengerti banyak hal.
Proses Riset Yang Membuka Mata
Sebagai tittle awal film kami, jauh sebelum judul CONSPIRACY OF SILENCE (Judul ini adalah ide Teteh) disepakati menjadi judul final, judul kami adalah QUEST FOR HEALTH.
Dari judulnya saja yang sudah “mencari sehat”, riset untuk mencari sehat “YANG ITU!” tersebut tidaklah mudah. Kurang lebih 15 cerita tentang kesehatan yang terlanggar kami dengarkan. Di antara nama-nama dan kasus kesehatan yang menjadi sumber riset kami adalah tersebut
- Mbak Lies Marcoes dengan kasus malpraktek berkenaan dengan matanya.
- Teman saya Teguh yang mengalami kegagalan operasi dan dokternya hampir tak mau bertanggungjawab.
- Ibu Siti Chomsatun yang kasusnya ditangani LBH
- Profesor Irwanto dari Kampus Atmajaya
- Sheila – ibu muda dengan tiga anak dan baru ditinggal mati suami— anaknya ditahan di RSCM dan dia nggak punya uang
- Adik dari temannya Goey di Lenteng Agung yang sudah 4 kali operasi usus buntu dan berakhir selalu dengan masih bernanah di perut bekas operasi
- Mengikuti salah seorang warga binaan JRMK (jaringan rakyat miskin kota) di Penjaringan. Dia seorang tukang air, masuk rumah sakit, tapi dipaksa keluar oleh keluarganya karena tak mampu untuk biaya berobat. Dia dibawa pulang ke semarang dengan menggunakan mobil kijang tetangga (tak mampu menyewa ambulance) dan akhirnya dua hari setelah sampai di semarang, tukang air tersebut meinggal
- Warga Cina Benteng dengan kasus sama: ditarik dari RSCM karena tak punya biaya untuk menunggui selama si sakit dirawat di sana. Meski memakai kartu GAKIN (Keluarga Miskin) tapi tetap saja mereka tak mampu untuk bayar obat yang harus dibeli plus untuk ongkos bolak-balik keluarga yang harus menunggui.
- Jared dan Jayden yang buta karena kesalahan prosedur RS OMNI HOSPITAL
- Pak Agus yang tak memiliki akses terhadap layanan kesehatan
- Jaka, anak umur 14 di kebon kacang yang sekarang tinggal sendirian karena ayahnya telah meninggal. Setelah berobat 2 bulan di RSCM, pengobatan ayah jaka dihentikan karena tak mampu membayar biaya. Kemudian ditangani LBH Jakarta, tapi tetap ayah Jaka pada akhirnya meninggal karena sempat dihentikan pengobatannya selama 2 minggu oleh RSCM sebelum ia dibantu ditangani oleh LBH Jakarta
- Mas kemal yang mengalami gangguan mata dan hampir buta oleh JEC.
- Haslinda Siregar yang mengalami gangguan mata dan hampir jadi buta tapi malah dituduh balik melakukan pencemaran nama baik ketika ia mengadukan RS yang membuatnya buta.
- Bapak di Ciputat yang kasusnya ditangani LBH, tapi katanya ia sudah tutup kasus.
- Kasus yang ditangani LBH tapi kami cuma melakukannya sampai proses via telepon saja.
Melihat dan membuktikan sendiri kasus pelanggaran pelayanan kesehatan di lapangan dan itu ternyata SANGAT BANYAK SEKALI! Membuat saya yang awalnya agak under-estimate terhadap kasus kesehatan menjadi bergidik dan merinding…
 |
| Sheila & A’ing: salah satu kasus dan story yang kami ikuti, tapi tak muncul dalam film |
 |
Untuk bisa mengeluarkan Aing dari RSCM, Sheila berinisiatif untuk mendatangi rumah Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo.
Sheila menunjukkan kertas utang dari RSCM yang ingin ditunjukkan pada gubernurnya, tapi para satpam mengatakan,
“Ini bukan rumah Fauzi Bowo, datang saja ke kantor Gubernur”. Sheila tahu itu rumah Fauzi Bowo. |
 |
Di kantor Gubernur DKI, Sheila juga tak berhasil menemui Fauzi Bowo.
Sheila sedang menunggu bemo yang akan mengantarnya kembali ke RSCM |
 |
Sudah 2 bulan A’ing di RSCM keadaan tak juga membaik, Sheila ingin Aing segera keluar tapi tak punya uang.
A’ing adalah salah satu korban tabrak lari. |
 |
Begini konstruksi panel besi yang dijadikan penunjang untuk tulang kaki A’ing
supaya tulang yang cedera tetap saling menyatu |
 |
Dengan meminjam uang kemana-mana, Sheila atau nama KTP: Baiti, berhasil mengeluarkan A’ing pada akhirnya.
Hanya saja, tidak semua hutang perawatan mampu ia bayar. Baginya, yang penting adalah keluar dari Rumah Sakit. |
 |
Ditahan di Rumah Sakit dengan biaya semakin membengkak, adalah pilihan sama buruknya dengan merawat sendiri
A’ing di rumah tanpa pengetahuan medis yang memadai. |
 |
Dan inilah yang terjadi: A’ing selalu kesakitan dan takut
setiap kali akan ganti perban untuk merawat luka yang masih bernanah (padahal sudah dirawat 2 bulan di RSCM) |
 |
| Sheila masih harus mencari pinjaman kemana-mana untuk membayar hutang perawatan anaknya di RSCM |
 |
Belum lagi A’ing pun harus dikontrol setiap 2 kali seminggu ke Rumah Sakit.
Darimana ia mendapat uang, padahal sheila tak bekerja? |
Gila! Pelanggaran itu banyak banget ternyata! Super banyak dan sangat variatid… Siapa yang pernah membuatnya dalam bentuk audio-visual? Siapa yang telah mengangkatnya menjadi film dokumenter? Kenapa tak ada yang tertarik? Apakah semua orang berpikir sebagaimana apa yang saya pikirkan pada awalnya: Kesehatan adalah isu garing yang susah untuk diolah menjadi film?
Ya, kecuali TV yang menjadikannya sebagai acara di beberapa program mereka, “Belum ada materi audio visual yang bisa dijadikan materi kami untuk advokasi di bidang pelanggaran kesehatan, Cu” Begitu kata Tommy dari LBH Jakarta sewaktu kami ngobrol di awal-awal pembuatan COS semasa riset.
Proses selama riset tersebut betul-betul membuka mata saya ternyata. Belum lagi sulitnya menembus NGO yang mengaku melakukan advokasi terhadap kasus pelanggaran kesehatan tapi tak bersedia bekerjasama untuk membuka data. Selain dengan LBH JAKARTA yang memiliki satu visi misi, tiada lembaga lain yang mau membuka data mereka. Alasannya: rahasia.

Ya, tentu saja kami tahu itu. Setiap klien yang datang akan menandatangi lembar yang mengatakan bahwa kasus mereka akan dirahasiakan oleh lembaga yang menaanganinya. Tapi bila kita satu visi misi, kenapa tidak dibuka saja dulu siapa mereka yang terlanggar hak-nya dan sedang menghadapi masalah. Siapa nama, dimana alamat, berapa nomor telponnya. Soal aproaching kesediaan mereka berpartisipasi dalam film sebagai karakter di dalamnya, itu adalah urusan si pembuat film. Siapa tahu mereka juga mau… jangan ditutup aksesnya sejak dari awal.. Mengapa begitu sulit untuk lembaga-lembaga itu untuk terbuka pada kami?
Ah, memang sepi ternyata jalan advokasi untuk kasus pelanggaran hak kesehatandi Indonesia sini ternyata. Tentang hal ini, saya masih tak habis akal siyh sampai sekarang. (*jempol buat LBH JAKARTA!)
Oh ya, dari sekitar 15 story yang kami riset dan kami gali, akhirnya kami memilih 3 yang menurut kamu terkuat dan bisa di-share untuk inspirasi bagi orang lainnya. Kisah mereka bertiga ini-lah yang muncul di film CONSPIRACY OF SILENCE: Perjuangan ibu Siti Chomsatun yang kemana-mana selalu disertai putrinya; kisah si kembar Jared-Jayden dengan ibunya Juliana Dharmadhi; kisah Pak Agus dan Bu Yani sebagai mereka yang terpinggirkan dan tak pernah punya akses terhadap layanan kesehatan.
Sangat Capek Tapi Jadi Pede
Proses produksi adalah hal lain yang sangat menguras energi dan jadinya kerap terasa begitu melelahkan. Cekcok kecil di tim produksi kadang terjadi, tapi segera bisa diatasi.
Saya kerap cerewet dan permintaan saya begitu banyak. Sementara Cameraman saya juga pasti pusing dibuatnya karena ketika permintaan saya yang satu sedang ia lakukan, saya sudah membuat permintaan pengambilan gambar yang lain untuk dilakukan padahal cameraman saya belulm lagi kelar mengerjakan permintaan saya yang sebelumnya, dan itu seringkali terjadi. (Sorry ya Guy.. :p)
Belum lagi line-producer saya yang karena keriadaan budget sewa alat transportasi, Nina pun harus juga jadi sopir sementara jarak satu lokasi ke lokasi lain tempat para karakter dalam film kami tinggal, bertentangan jarak satu sama lain. Ibu Juliana dan si kembar berlokasi di alam sutera tangerang, sedang ibu siti chomasatun bertempat tinggal di Bekasi. Capek dan beban kerja yang berlipat membuat nyala-nyala kecil keribetan ketika produksi sesekali terjadi.
Tapi konflik adalah hal normal. Itu malah diperlukan, untuk membangun dinamika. Saya suka banget tim produksi COS ini. Nina yang baik tapi juga galak membuat saya jadi disiplin (hihi). Guy yang kerap terus terang kalau dia lagi capek dan mengaku kadang blanky kalau produksi terlalu makan tenaga, membuat segala hal jadi lebih mudah diantisipasi untuk hari-hari produksi selanjutnya. Komunikasi adalah memang cara terjitu mengatasi segala persoalan. Kejujuran dan keterus-terangan dalam tim produksi adalah cara ter-paling mengesankan untuk membuat sebuah kolaborasi kerja berjalan terus tanpa ada beban dan tak berakhir gontok-gontokan.
 |
[tanpa menggunakan spycam]
TRIK CANDID, PART-1 :
Perhatikan bagaimana DoP handal kita membuat trik Camera Candid
Korban pertama: tas kain warna hitam |
Post produksi adalah hal dan tantangan yang lain lagi. Sebagai post-produser merangkap co-produser yang tahu dari awal bahwa budget film ini begitu kecil, ini benar-benar memerlukan strategi untuk aproaching para seniman pekerja lainnya di tahapan post pro.
Membawa nama besar Nia Dinata di embel-embel belakang produksi padahal ini adalah produksi dengan budget mepet, adalah hal tersulit ketika post-pro. Meyakinkan pembuat musik dan sound engineer untuk membantu kami di post produksi dengan imbalan yang cuma cukup untuk transport mereka adalah hal yang tak mudah (setidaknya bagi saya ketika melakukannya dan melamar mereka dengan budget yang ada)
Untuk story building paska produksi, untung ada Sally Anomsari yang sudi terlibat. Awalnya sally menjadi transcriptor tapi kemudian bersama saya berkolaborasi membangun Editing Script. Sally pun lantas jadi editor offline dan untuk sound editing dan mixing ada Dono Firman, sedang untuk musik adalah Frans Martatko. Offline dikerjakan dengan menggunakan Mac Book – Final Cut Pro milik Guy di rumah Goey, sedang online dikerjakan di Kalyana dengan alat dari Kalyana dan pengerjaan dibantu Bernardes Salvano. Ada Erickson Siregar dari Bandung yang mengerjakan Grafis dan Juga Affan Diaz yang membantu grafis-grafis kecil di sana-sini.
Berat!
Memang semuanya terasa berat.
Tak ada yang mudah sejak dari budget, teknis produksi, seleksi awal karakter dan konflik serta story ketika riset dan pra-produksi. Kelelehan ketika produksi, plus assembly tim post-produksi.
Untuk budget translator terpaksa kami minta uang lagi ke JFCC. Dana subtittle tersebut ternyata tak dialokasikan ketika kami mengajukan budget. Veronika Kusuma, Roommate saya, mengerjakan transkrip awal dan lalu translate dari bahasa Indonesia ke bahasa inggris. Pada tahap awal translate ini, Vero dibantu keroyokan oleh Nayla dan Widya. Sedang untuk tahap lebih lanjut subtittle, ada Lucky, Teh Nia dan Titania Veda yang membuat subtittle bahasa Inggris di Film CONSPIRACY OF SILENCE dipuji oleh teman dari JFCC.
Biar bagaimanapun, jason dari JFCC sangat khawatir dan concern terhadap terjemahan atau English subtittla film COS ini. “Seluruh anggota JFCC adalah wartawan asing yang tinggal di Jakarta, jadi bahasa Inggrisnya harus baguuuss… “ Begitu Jason requested.
Kawah Hamburg dan Perasaan Minder
IN THE END… semua proses yang melelahkan dan menguras tenaga itu membuat saya merasa seperti berada dalam “Kawah Hamburg”nya The Beattles. Kawah yang kata William Caldwell Pengarang buku OUTLIERS adalah kawah penggemblengan yang menjadi wahana latihan. Salah satu yang membuat The Beattles menjadi begitu sempurna ketika mereka melakukan live performance, adalah karena mereka pernah selama 3 tahun berturut-turut melakukan live show di sebuah kafe di Hamburg. Begitu membuat mereka sangat kelelahan tapi membuat mereka menjadi sangat terlatih juga. Moment Itulah rupanya yang menjadi salah satu kawah dasamuka band paling hitzs di dunia samapi saat ini tersebut. Moment itulah rupanya yang menggembleng The Beattles untuk kuat dan tak cepat payah dalam keadaan apapun termasuk ketika mereka menjadi sangat begitu tenar…
Mungkinkah CONSPIRACY OF SILENCE ADALAH KAWAH HAMBURG saya? Tempat penyiksaan yang membuat segala hal terasa kacau dan payau serta sangat emosional tapi begitu berharga sebagai pengalaman?
Sejak memulai produksi film dokumenter pada bulan Mei 2006, melalui BAB AKHIR PRAMOEDYA, saya tak pernah pede untuk menyebut diri saya sebagai filmmaker. Saya bukan anak IKJ yang setidaknya sekali dalam hidupnya pernah menggunakan materi film untuk produski film mereka. Saya hanya seorang pelompat yang tertarik pada cerita. Seorang lulusan IAIN yang sempat jadi wartawan. Seorang penulis yang ingin menggunakan video untuk dijadikan pena dalam menggambar cerita. Manalah berani saya mengatakan diri saya filmmaker. Saya cuma seorang pengguna video toh? Menggunakan handycam Sony NVGS 120 di awal-awal pembuatan film dokumenter saya dan selalu gambar yang saya ambil goyang, setingan kamera selalu AUTO dan selalu pasrah kalau editor menggunting hasil gambar yang saya ambil dan tak menjadikannya sebagai materi yang diamsukkan dalam film.
…Dengan semua keadaan itu, manalah pede saya menyebut diri sebagai filmmaker. Sebuah keminderan yang beralasan kan?
Tapi CONSPIRACY OF SILENCE membuat saya berpandangan lain terhadap diri saya sendiri. Oohhh… saya dan tim saya… ternyata mampu tohhh bikin fillmm? Film yang isunya awalnya kami perkirakan garing seperti bebatuan di pasar pasir.
Kalau boleh terus terang sekali lagi, sumpah deh boooo… Capek banget booooooooo… menguras tenaga dan emosi sekali pembuatan film ini. Dipertanyakan oleh sejumlah pihak, pengambilan gambar banyak yang undercover (deg degan takut ketahuan), pilihan story yang begitu banyak hingga pada awalnya bikin pusing untuk milih, plus ya itu tadi… Budget.
Untuk kebutuhan keuangan saya sendiri, saya kebetulan mengajar kelas DIRECTING THE DOCUMENTARY dan kelas SCRIPTWRITING THE DOCUMENTARY di Next Academy. Plus waktu itu awal tahun 2010, saya juga sempat hampir sebulan bekerja di Papua untuk membantu Kantor Berita Radio 68H yang mendapat project PNPM Mandiri di sana. Syukurlah… saya agak sedikit bisa bernafas lega karenanya. Dan untuk tim saya Nina dan Goey, saya mengatakan, “Feel free aja, selama nggak ada tabrakan dengan jadwal shooting kita.. sok aja, kalau ada tawaran kerja dari yang lain ambil aja!”
CONSPIRACY OF SILENCE, terserah deh buat orang lain bagaimana… tapi buat saya dan rasanya juga buat tim di COS yang lain, kami merasa bangga melihat hasilnya. Hasil yang didapat dengan komitmen yang tak melulu karena uang tapi karena kami menganggap isu ini penting. Isu ini harus ada yang menggarap dan membuatnya..
Saya sadar banget mungkin film ini bukan segmen film festival karena isu-nya begitu segmented yakni kesehatan, tapi tak apa… saya melihat bagaimana film ini mungkin akan berguna untuk komunitas. Untuk advokasi. Untuk menginspirasi lebih banyak orang yang terlibat kasus pelanggaran hak kesehatan meski mungkin tidak seheboh apresiasi kala film AT STAKE dibikin tahun 2008
Hal lain yang juga menyenangkan dari CONSPIRACY OF SILENCE adalah setiap kali film ini diputar, setiap kali saat selesai diputar… selalu saja ada orang-oraang yang mendatangi saya dan bercerita kalau mereka atau salah satu keluarga mereka atau teman mereka atau kenalan mereka… pernah ada yang terlanda kasus malpraktek juga. Bahwa pengalaman itu ternyata hampir dialami oleh banyak orang, oleh banyak yang merasa diabaikan oleh orang-orang yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan…
Evaluasi dari tahun 2011, Yang Gagal Dari Conspiracy Of Silence: Roadshow & Distribusi
Setelah membikin, tentu saja saya sebagai pembuat (dan juga tim saya) inginnya film bisa dijadikan sebuah product yang bisa ditonton dimana-mana.
Sejak dari semula, target utama saya sebenarnya adalah: Ingin Roadshow ke kampus-kampus; ditonton oleh sebanyak mungkin mahasiswa kedokteran; Ingin diputar di seluruh kampus yang memiliki fakultas kedokteran di seluruh Indonesia. Harapannya: siapa tahu bisa membuka perspektif para calon dokter muda yang masih belajar di kampus ini, untuk nantinya tidak melakukan tindakan teledor atau berfokus pada bisnis murni pelayanan jasa layanan kesehatan. Mereka yang masih muda adalah selalu merupakan suatu hamparan harapan, terlebih mereka yang open minded dan selalu ingin melakukan yang terbaik dengan self critic, tidak seperti para generaasi mereka yang mungkin sudah termakan sistem self-defence.
Saya dari Gambar Bergerak telah berkoordinasi dengan Kalyana Shira Foundation yang seharusnya jadi distributor film ini. Telah melakukan pula list fakultas kedokteran ada dimana saja dan yang mana saja yang ingin diajak kerjasama untuk pemutaran di kota-kota yang kiranya akan dikunjungi. Ada 36 List kampus, di tangan saya waktu itu kalau nggak salah. Tapi sampai saat tulisan ini dibikin, hal tersebut tak terjadi sama sekali. Roadshow tak diadakan, distribusi ke festival pun tak terjadi.
Mungkin kendalanya memang uang, tapi mungkin kendalanya juga waktu. tapi mungkin juga kendalanya bukan kedua-duanya melainkan semata karena keingan yang kurang kuat baik dari pihak kalyana maupun dari pihak saya di gambar bergerak.
kami tak punya budget untuk roadshow, itu saya tahu. kami pun sibuk membuat lagi karya baru di tahun 2011 hingga film yang dibuat dengan susah payah ini tak terurus pemutarannya… tapi bukankah selalu sebenarnya ada kesempatan?
Engage Media adalah satu kesempatan itu.
Suatu hari berkat pertemuan sekilas dengan Andrew, Rico dan Yerry dari Engage Media, CONSPIRACY OF SILENCE preview diunggal secara online di website mereka yang jangkauannya adalah asia-pasifik. Not bad at all…
Distribusi online memungkinkan beberapa pihak yang melihat dan kerap memantau website Engage Media menghubungi saya baik by email personal maupun email gambarbergerakvisual@gmail.com dan meminta copy screener COS untuk dikirim ke festival mereka. KOMAS dan Freedom Film Festival dari Malaysia, De Cine Politico Dirigido fo Mujeres Film Festival dari Madrid adalah dua yang akhirnya membuat COS bisa disimak oleh lebih banyak orang.
Sekarang saya sedang di Madrid, semalam COS baru saja diputar di CINETECA plaza el matadero. Pada waktu yang sama, COS juga sedang diputar di Luang Prabang Film festival di Laos. Pun tanggal 6 Desember besok, FFD yogyakarta juga memasukkan COS dalam line-up film kompetisinya.
Tapi…, tetap saja roadshow atau pemutaran keliling di kampus-kampus fakultas kedokteran tersebut belum terjadi.
Adakah pihak yang bisa membantu?