Setelah menggambar setangkup hamburger besar, wahai Kematian, jenguk aku.
Khawatir di surga, tak kutemukan lagi crayon mesin dan pola
Peluk dan segera datangi aku, wahai Kematian…
karena kabar itu telah lama kudengar
Tentang waktu setelah kau datang
…mereka bilang, aku akan kembali seperti saat sebelum aku dilahirkan
Jenguk, tapi berbaik hatilah padaku, Kematian.
Karena baru kemarin, Steve Jobs meninggal.
Dia bilang, “Tak seorangpun dimana saja ia berada, menginginkanmu.
Bahkan orang yang begitu merindu surga, tak ingin mati untuk sampai ke sana”.
“Hanya saja, kau takdir yang harus kami tanggung,
tak sesuatupun yang hidup mampu lolos darimu[dan mungkin memang sudah seharusnya begitu]. Karena kau kematian, adalah penemuan terbaik sang kehidupan.It is Life’s change agent. Menyapu yang lama untuk memberi jalan pada yang baru.”“Saat ini, yang baru adalah kamu – aku – kita, tapi suatu hari tak lama dari kini, kita akan menua dan tersapu. Maaf bila terdengar agak drama, tapi sungguh; ini nyata!”
[Quote by Steve Jobs]
Maka malam ini,
Biar kukelarkan dulu lukisan grafis di laptop Mac-ku, boleh?
Dan datanglah kau besok ,
Jangan terlalu pagi…
Saat matahari pertama jatuh di ujung jarum pukul sepuluh
…Ya, aku memilih waktu yang itu untuk bisa mengucap dengan riang:
“Selamat datang kematian”
[ditulis 13 desember 2011, diposting siang ini 1pm 3 januari 2012]


