Director’s Diary: Monster Sejati
Monster sejati nggak bisa dibeli,
Menghancurkan apapun,
Ia punya misi
Itu terlintas gitu saja…
Kata-kata itu muncul bukan karena peristiwa Lady Gaga, bukan karena baru beberapa malam lalu lihat The Avanger-The Movie, nggak dimaksudkan tuk jadi sebuah lead selayaknya tulisan buat majalah, koran, juga artikel seminar.
Nggak, lah.
Sama sekali bukan!
Kata-kata itu… Memang itulah kalimat yang ingin kutulis pagi ini.
Sejak semalam itu kata-kata seolah terus ngetuk-ngetuk dinding otak, berbaris minta dikeluarkan dari pikiran, mendesak jejari untuk bikin tulisan ini pada rabu pagi setelah bangun dari tidur. Begitu spontan. Begitu membuat aku agak heran juga, kawan.
 |
| Misa arwah untuk Femi Adi Soempeno, teman jurnalis yang meninggal dalam kecelakaan pesawaat sukhoi. Semalam setelah dari Capel di Kanisius inilah, kata-kata tentang monster terngiang dan menari-nari di benak… |
Sudah lama nggak menulis. Padahal banyak banget peristiwa menarik yang terjadi di kehidupan belakangan juga kemarin-kemarin. Yang personal, yang kerjaan, yang
political, juga seputaran gossip dan guyub dengan kawan-kawan di
inner circle. Tapi semua raib, segalanya nggak berjejak dalam tulisan melainkan cuma tertelan beruang malas yang kandangnya terperangkap di badan. Mungkin karena aku capek juga. Semua urusan dokumenter tentang pers dan media yang lagi dikerjakan, kadang bikin aku benar-benar
burn out, tak memiliki waktu, nggak ada peluang buat berpikir tentang yang lain, terlebih menulis
.
Sejauh ini, tak ada satu peristiwa pun yang mengalahkan kemalasan atau mengalahkan prioritas objektif – si project doc yang lagi dikerjakan, hingga semua peristiwa yang terjadi itu luput berlalu begitu saja tanpa sempat ditulis atau dibagi. Tapi… tidak untuk peristiwa yang satu ini…
Sesuatu!
Ya, peristiwa ini sungguhlah ‘sesuatu’ bagiku.
Sesuatu tentang MONSTER ini terlalu ‘menggerakkan’. Membuatku bertanya dan dengan segala cara, body plus kepala membuat semacam jalan untuk mengelaborasi banyak hal, terutama setelah suatu peristiwa tak habis pikir yang terjadi padaku berkali-kali dan semalam semakin jelas peristiwa itu mengejawantah; mengenai seorang expert di bidang media, setelah ia (menurutku ia) terus menghindar(i ku), dan setelah akhirnya mendapat konfirmasi dari Luviana (jurnalis perempuan, salahseorang tokoh yang sedang diikuti untuk project dokumenter terbaru yang bercerita tentang pers dan media di Indonesia) tentang bagaimana siyh si sosok di mata Luvi dan bagaimana yang pernah Luvi dan teman-teman jurnalis alami sewaktu berhubungan atau bekerja dengannya.
Kalimat itu,
tentang Monster Sejati, jadi begitu jelas membekas di kepala setelah mendengar cerita Luvi tentang sosok yang menghindariku setelah moment di kapel kanisius, semalam. Kalimat itu,
tentang Monster Sejati seolah ada seseorang yang menuliskannya tebal-tebal di dinding otakku. Nemplok di benak dan nggak bisa terhapus, muncul dari sejak pertemuan di Benhill pada suatu siang yang terik saat menunggu teman-teman Aliansi METRO (menolak topeng restorasi) dan tim Litigasi Luviana untuk datang berkonsultasi dengan expert perburuhan yang baru aku kenal: Surya Tjandra.
Sosok yang aku temui semalam, dengan sosok Surya Tjandra yang ditemui beberapa waktu lalu, meski sama-sama ber-etnis Cina (sorry untuk mengatakan ini, tapi saya cuma mau jujur) tapi mereka sungguh berbeda! Pertemuan yang tak jadi bertemu dengan expert media karena ia lupa untuk kembali ke kapel dan menemui aku yang nunggu dia kayak orang bego semalam, jadi sungguh membuat pikiran ini teringat akan “Monster Sejati” yang diceritakan Surya Tjandra beberapa waktu lalu.
Pagi ini, tentu aku nggak ingin bercerita tentang si expert, tapi pasti, aku sangat ingin bercerita tentang Surya Tjandra dan Si Monster….
* * *
Jl. Mesjid 3 No.1 adalah rumah untuk organisasi TURC :
Trade Union Right Center. Rumah kecil ber-cat cream agak kuning, berpohon bambu-bambu kurus di beberapa tepi depan halamannya yang sempit serta berdebu dan terletak agak di pojok gang, itulah tujuan kami bersama hari tersebut. Aku dan
camera person-ku datang lebih dulu untuk meng
capture moment yang terjadi hari itu. Maruli dari LBH Jakarta datang sendirian, lalu Luvi, dan terakhir teman-teman dari LBH Pers.
Hari tersebut, Luvi dan tim litigasinya akan melakukan konsultasi untuk mengetahui bagaimana strategi terbaik yang harus dilakukan bila, andai, atau ya.. siapa tahu ingin memasukkan perkara Luvi sang Jurnalis yang di-PHK kan MetroTV secara semena, hendak dibawa ke jalur perkara pidana. Dari rumah tempat TURC yang juga jadi tempat kerja Surya Tjandra itulah kata-kata tentang MONSTER itu terbang dan lalu hinggap mendiami kepala, tinggal disana, nggak mau pingsan, nggak mau dilupakan, juga nggak mati-mati dalam ingatan.
Yang menghidupkan monster itu, tak lain dan tak bukan adalah sang direktur eksekutif dari TURC sendiri; Surya Tjandra. Seseorang yang sebelumnya – bagiku adalah semata manusia antah berantah,
dalam artian… kupikir ia pasti memang hebat, tapi aku sudah banyak bertemu orang hebat dan pastilah Surya Tjandra ini cuma salah satu narasumber tersebut yang biasa dan telah terlalu biasa kutemukan dalam proses pembuatan dokumenter. Seseorang yang penting, tapi tak lebih penting dari tokoh utama yang sangat aku hormati dan padanya kupercayakan visi dan misi project, jadi mata dan kepala pikiran untuk semua yang ingin dibilang dan di-share ke khalayak melalui film yang nantinya akan ditonton ribuan orang.
 |
kasus seperti kasus Luviana: banyak terjadi, tak ada yang menceritakan
Kasus seperti ini banyak terjadi. Jurnalis diberhentikan hanya karena ia kritis dan mempertanyakan beberapa prosedur baik di redaksi maupun di manajerial. Manajemen dan atasan tak suka, maka ia pun diminta mengundurkan diri. Luvi menolak, “kenapa harus mau bersetuju dengan permintaan mereka? aku menolak karena aku nggak salah. Kalau mundur seperti yang mereka inginkan, berarti aku salah. Aku nggak salah…” |
Tokoh yang sedang kuikuti, Luviana, ia tak pernah putus asa. Itulah salah satu yang melatari keputusan kuat kita di tim dokumentar untuk menjadikan dan memilihnya sebagai protagonist dalam film documenter tentang media ini. Ia begitu tangguh dan sangat yakin bahwa dirinya tengah melakukan sesuatu yang benar; Tak lelah, meski beberapa hal kerap membuatnya ‘capek’; Tetap berusaha jadi ibu yang baik untuk anaknya… dan, tetap independen berdampingan dengan suami yang men-support aktivisme-nya sepenuh hati. Hanya saja setelah waktu bertubi-tubi menganiaya dia dalam urusan sengketa kerjanya dengan MetroTV, kelelahan dan sedikit rasa frustasi itu jelas terlihat membayang di wajah tokoh kami ini (setidaknya itu pengamatan subyektifku).
Tanggal 10 Mei 2012, setelah melalui proses panjang bipartite dan aneka pertemuan dan agenda rentetan rapat, keputusan anjuran dari Suku Dinas Ketenagakerjaan Jakarta Barat yang merupakan mediator untuk kasus sengketa kerja ini telah tiba. Isinya: menganjurkan Luviana untuk dipecat atau di PHK. Sudinaker, birokrasi yang semula diharap bisa berpihak pada pekerja dan bukan pada pengusaha, kini jelas-jelas hanya mengutip alasan-alasan pemilik PT MEDIA TELEVISI INDONESIA yang menaungi METRO TV dan tidak mengutip secuilpun. alasan pihak Luviana yang menolak di-nonjobkan dan inginkembali dipekerjakan sebagai jurnalis di media itu.
 |
| Di dalam isi amplop ini, adalah anjuran dari sudinakertrans yang menjadi lembaga untuk mediasi kasus-kasus PHI (pengadilan HUbungan Industrial). Di dalam surat hasil putusannya untuk perkara PHI, sudinaker menganjurkan agar Luvi dipecat. …. Ah, birokrasi! sudah lama kami mencurigai namamu saja yang berhubungan dengan tenaga kerja, tapi sesungguhnya, kalian tak pernah berpihak pada mereka. kalian alat pengusaha. |
Pernyataan bahwa Luviana melakukan pelanggaran berat karena menyebarkan pesan dari BBM yang kontennya merupakan rahasia perusahaan serta pelanggaran berat karena Luvi berorasi di depan public menjelekkan perusahaan, itulah yang “dilihat” oleh Sudinaker, terdengar sangat mewakili POV (point of view) pemilik usaha dan tanpa memandang bahwa di sana ada terjadi pertanyaan dan keinginan membuka dialog dari seorang karyawan kritis yang adalah juga (jangan lupa, ia seorang) jurnalis, mempertanyakan kebijakan-kebijakan redaksi dan perusahaan. Luvi mempertanyakan kenapa para asisten produser tak diangkat menjadi produser sementara kerja-kerja yang dilakukan adalah kerja-kerja produser? Luvi mempertanyakan bagaimana sistem penilaian untuk naiknya suatu jabatan atau juga penggajian? Selama ini tak pernah ada hal tersebut dilakukan, evaluasi kerja juga tak berjalan. Luvi meminta perusahaan media tempat dia bekerja untuk mempertanggungjawabkan hal-hal tersebut kepada karyawan-jurnalisnya yang sedang bertanya-tanya tentang keadaan dan kesejahteraan mereka. Tapi apa yang terjadi?
Tak satupun point-point tersebut digubris sudinaker jakbar. Mereka lebih memilih mengutip alasan-alasan pihak Metro TV dan dengan tegas pada akhirnya memutuskan untuk: menganjurkan memecat Luviana seperti yang telah kuceritakan di awal tulisan ini.
Menanggapi putusan sudinaker tersebut, respon berjatuhan dengan berbeda. Respon yang pada akhirnya memecah strategi pembelaan di tim litigasi Luviana menjadi dua: LBH pers akan melanjutkan mengurusi soal PHI (persengketaan hubungan industrial), LBH Jakarta dan PBHI berinisiatif untuk membawa kasus ini ke alur lain di luar perdata yakni ranah pidana, bila bisa. Luvi menyetujui. Ia mau meneruskan perjuangan dan setuju dengan pilihan teman-teman pengacara dari LBH Jakarta dan PBHI. Dan untuk membawa urusan ini ke ranah pidana, tim litigasi kasus ini membutuhkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli urusan buruh dan serikat pekerja.
Dalam urusan mengikuti cerita Luviana yang terus bergerak inilah, aku bertemu dengan SANG MONSTER.
Kulitnya putih, rambutnya hitam dengan teksur yang terlihat keras, matanya jelas memperlihatkan dari ras mana ia bermula. Mata yang dalam dan seperti ada jurang di dalam tepian-tepiannya. Memakai baju batik bermotif ceplokan, bercelana jeans namun tak berhasil memperlihatkan kesan kasual, dengan tersenyum ia mengulur tangan, “saya Surya Chandra” ucapnya waktu berkenalan.
Standar, ia bertanya tentang apa yang sebenarnya saya kerjakan, dan agak mengusik ketika ia bertanya, “apa istimewanya Luviana hingga ia menarik untuk difilmkan? Apa menurutmu yang membuat orang begitu ramai mendukung dia? Bagaimana si Luvi nya sendiri PD nggak untuk membawa ini ke pidana? AJI Jakarta dan AJI Indonesia, agak beda pendapat tentang beberapa hal dalam kasus ini? Hhhmmm…”
 |
| Surya Tjandra; Konsultan, Lawyer, AKtivis-Expert Perburuhan, Piskolog. Dia mampu membangkitkan rasa percaya diri buruh korban dan menguatkan apa yang dimata orang terlihat ‘tak kuat dan tak berdaya tinggi’ |
Orang ini cerdik benar, memanfaatkanku sebagai narasumber sekundernya. Ia menggali informasi dan meminjam point of view-ku untuk dia jadikan kacamata sementaranya melihat proses kasus Luviana sebagai
outsider.
Dalam membuat dokumenter, memang aku kerap memposisikan diriku diantara dua status: insider dan outsider. Aku nggak boleh terlalu hanyut dalam story dan guliran peristiwa yang terjadi pada kasus Luviana hingga aku tak kritis dan lupa mempertanyakan POV penonton yang di kepala mereka pasti banyak memiliki pertanyaan yang harus diceritakan dan dijawab melalui gambar-gambar dalam filmku, dan di satu sisi, bagaiman mungkin aku tidak menjadi insider, karena ucapan dalam filmku adalah ucapan Luvi, cara pandang dalam film yang tengah aku dan tim ku buat sekarang adalah juga cara pandang Luvi. Maka satu-satunya yang harus kulakukan untuk bisa masuk ke Luvi adalah dengan memahaminya. Dan satu-satunya cara supaya bisa menerangkan ke penonton filmku kelak tentang kisah Luvi, adalah dengan terus mengikuti dan juga menjadi dirinya yang terus mempertanyakan permasalahannya sendiri. Tentu saja aku juga mengkritisi Luvi.
Lalu kalimat itu muncul: MONSTER! Dari mulut Surya Chandra. Keluar ketika kulakukan sesi interview dengan sang expert perburuhan dan serikat pekerja ini, sesaat sebelum Luvi dan tim litigasinya datang (karena saya sampai duluan).
SC: apa yang menurutmu menarik dari Luviana?
U: awalnya saya pikir tentau saja ini kasus besar, karena terjadi di perusahaan media yang cukup besar. Pemiliknya juga ya… kita tahu semua lah, seseorang yang menghulu ke politik tertentu. Lalu suatu saat ketika saya dudah masuk dalam story ini dan mulai mengikuti apa siyh yang sebenarnya terjadi denganmu, Luviana? Saya melihatnya jadi sangat personal kemudian.
“Suatu hari di bulan maret ketika kami akan melakukan bipartite di metro tv, beriringan menggunakan dua mobil kami ke sana. Tim litigasi dari LBH PERS, teman-teman dari divisi Serikat Pekerja AJI, tim kecil dokumenter saya. Pagi itu sebelum berangkat ke metro tv, Luvi sudah bilang kalau pak Avi dari HRD meminta dia untuk bertemu one on oneterlebih dahulu sebelum melakukan pertemuan bipartite resmi dengan semua pihak terkait. Ali dari LBH pers menyatakan hal tersebut biasa dilakukan oleh pihak perusahaan untuk memecah konsentrasi pegawai yang menentang mereka. Lobby dan biasanya umbaran janji-janji akan dilakukan dan diberikan pihak perusahaan hingga sebelum pertemuan bipartite yang melibatkan pengacara dan bersifat remi terjadi, diharapkan pikiran si karyawan yang awalnya menuntut beberapa hal pada manajemen, jadi berubah dan jadi melunak atau bisa lebih akomodatif.
“Nah, saat itulah,” ucapku ke Surya Candra, “Saya benar-benar bergidik dan baru tersadar bahwa inilah yang sangat personal itu. Sesuatu yang saya ingin angkat dari Luviana”.
U: Sekitar pukul dua kami sampai di MettroTV. Dari mobil-2 saya melihat dan terus merekamnya dengan kamera poket saya (kamera utama saya ada di mobil yang sama dimana Luvi berada). Saya lihat Luvi turun dari mobil dimana ia bersama para lawyer dari LBH Pers berada. Dia turun sendirian. Kami semua tinggal di dalam mobil karena memang hanya Luvi seoranglah yang dipanggil untuk bertemu. Pihak manajemen ingin bicara terlebih dahulu. Tidak bileh didampingi.
“Saat itulah saya menangkap bayangan dan peristiwa yang menggetarkan dari sosok ini. Saya melihat Luviana yang “seseorang”. Saya melihat “seorang” perempuan, “seorang” manusia kecil (dalam artian tidak punya uang yang banyak), saya melihat “seorang” yang sendirian karena memang teman-temannya tak bisa
speak out bersama dia dan lebih memilih untuk diam atau keluar. Ia… seseorang yang berbaju seragam metroTV, dan ia yang seorang ini masuk ke gedung yang begitu besar. Sangat besaaarrr.. dijaga satpam, ditontoni teman-temannya, dan… saya
keep wonder dan bertanya pada diri saya sendiri, ‘sadarkah Luvi kalau ia kini tengah memasuki sebuah medan pertempuran dengan suatu perusahaan media yang begitu powerfull, punya modal besar, bisa menggunakan kekuatan politik, dan kalau mereka mau bisa juga menggerakkan kekuatan-kekuatan yang lain yang tak bisa kita identifikasi.”
U: karena ia begitu kecil, sendiri, (in a way luvi mengingatkanku pada kisah david vs goliath), gigih, ia juga ibu yang sangat merindukan bisa meluangkan banyak waktu bersama anaknya, ia seorang aktivis perempuan, …hal-hal personal seperti itulah yang pada akhirnya membuat saya jauh lebih tertarik pada luvi daripada hal-hal besar mengenai keheroikannya yang secara nyinyir saya lihat sendiri dicibir oleh beberapa orang
Kulihat Surya Chandra mengangguk-angguk.
“Bagaimana dengan tawaran uang dari perusahaan? Ada kan?”, Tanya Surya Chandra.
“Ada. Semacam pesangon dan lain-lain. Kalau dijumlahkan, semua sekitar 158 jutaan, untuk masa kerja hampir 10 tahun. Tapi di surat anjuran Sudinaker Jakbar yang terakhir diterima, Luvi malah hanya dianjurkan untuk diberi uang terima kasih saja, bukan uang pesangon. jumlah yang ditawarkan kini jadinya jadi lebih kecil. Sekitar 85 juta saja”
S: Luviana nya mau?
U: nggak lah…
Sekali lagi Surya Chandra manggut-manggut.
“Hhhm… buruh,” lelaki itu berkata masih dengan melanjutkan manggut-manggutnya. “Buruh, kalau ia tak takut dan tak mau dengan tawaran-tawaran perusahaan yang tak adil menurutnya, itu adalah hal yang cukup untuk sebuah perjuangan. Benar sekali apa yang yang dilakukan Sa’id Iqbal,” ucap Surya Chandra, tanpa ia peduli dahiku berkerut mendengar nama itu. WHO THE HELL IS SA’ID IQBAL????!! – HELOOOO
“Bagi perusahaan, buruh yang tak bisa dibeli itu adalah monster.
“Sa’id Iqbal tuh sekarang udah kayak monster bagi perusahaan-perusahaan. Ditawari apapun nggak mau. Menakutkan sekali kan, ia tak peduli uang! Ia bergerak karena ia punya misi. Monster.”
Itulah!
Dari sanalah kalimat MONSTER yang menghantui kepalaku bermula. Dari percakapan in between interview dengan Surya Chandra di rumah TURC di Benhill itu.
Aku baru saja menonton film THE AVANGER 3D di EX beberapa waktu lalu. Dan memang begitulah monster. Mereka tak kenal takut sama sekali. Mereka juga tak punya kompromi. Mereka seolah dicipta hanya untuk mengabdi pada misi. Beberapa senjata dibuat untuk mereka dalam melengkapi perjuangannya, dan bila monster-monster dalam kalimat Surya Chandra yang me-refer ke seseorang di dunia nyata yang begitu berani seperti Said Iqbal (ia kemudian saya google dan tahulah saya kalau ia adalah Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia – KSPI), maka hal-hal itulah yang mengejutkanku dan membuat terhenyak. Ada ya manusia yang monster seperti itu? Monster-monster sejati yang tak bisa dibeli… Yang tak takut dan tak gentar kalau mereka yakin mereka benar…
Hhhm….
Tapi…, tapi memang bukankah itu juga yang persis dilakukan Marc Zuckerberg saat ia menolak uang dari si kembar bersaudara Winklevoss dan memilih untuk mengerjakan sendiri projectnya? (dan tak lama kemudia kita mengenal Monster facebook yang menjadikan Marc salah satu milyarder termuda di muka dunia?). Bukankah inilah pula hal yang membuat Munir sang founder KONTRAS menjadi Monster bagi para penjahat Negara yang menghilangkan ribuan nyawa rakyatnya dalam aneka kekerasan hingga Monster Munir ditargetkan untuk dibunuh dalam penerbangan Garuda ke Belanda? Inilah juga kan yang membuat Aung San Suu Kyi dikucilkan dan dilemahkan sebegitu lamanya oleh rezim junta militer di Burma dan ironisnya, yang terjadi ia malah semakin menjelma menjadi monster yang begitu kuat bagi lawannya? Bukankah itu yang membuat akivis pejuang hutan Amazon Chicko Mendes diberangus dan berakhir dengan pembunuhan brutal terhadapnya seperti yang bisa kita lihat dalam film terkenal tentang sang aktivis lingkungan tersebut di Burning Season?
KARENA MEREKA ADALAH MONSTER!
ya, mereka pastilah monster-monster sejati di mata para penguasa lalim!
* * *
Monster sejati
Mereka tak bisa dibeli
Menghancurkan apapun, karena mereka punya misi
Monster sejati yang baik,
Pasti akan menghancurkan kejahatan
Mengejarnya sampai ke lubang terkecil sekalipun
Membunuh sampai ke sumbernya
Memberangus akar-akarnya.
Uang?
Ia cuma kertas, tuan. Berguna untuk ditukar dengan pakaian dan hal-hal yang terlihat bisa memperkaya dan membuatmu tampak lebih elegan. Mensupport hidupmu dan menina-bobokan dirimu hingga rasa nyaman dan membuatmu lupa pada apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Uang bisa memberimu segalanya, tapi percayalah… ia tak pernah bisa menjamin kemerdekaan dan kebebasanmu. Membungkam banyak hak mu. Dan tentu saja pada suatu titik, uang akan menjadikanmu boneka padahal kamu bisa memilih menjadi M.A.N.U.S.I.A M.E.R.D.E.K.A
Monster sejati
Mereka memiliki visi
Megemban misi
Dan program yang ada di chip kepala dan hati mereka, mungkin memang hanya kata ini: hancurkan ketidak-adilan!
Kenapa menyempatkan waktu menulis tentang hal ini jadi terasa sangat penting bagiku?
Karena meski aku cuma pengagum dari para monster garda kebaikan yang jadi sumber-sumber inspirasi seperti yang kutuliskan di atas itu, dalam membuat sebuah dokumenter, tawaran-tawaran itu juga ada: Uang.
Suatu masa dalam hidupku setelah aku mengerjakan suatu project dokumenter yang sempat membawaku ke sebuah festival besar dan di-cover banyak media, aku pernah ditawari sejumlah banyak uang oleh orang dari suatu perusahaan tambang.
Suatu masa dalam hidupku ketika aku sudah memilih sesutau yang di antaranya adalah menjadi sutradara film dokumenter, aku sempat mengalami dilema dan tertarik untuk pergi dari dunia idealis-tragis ini karena hal itu: uang. Di dunia documentary ini tak ada uangnya!
Dan dalam bekerjasama dengan para tokoh dan protagonist yang ada dan dibutuhkan dalam membuat suatu cerita untuk dokumenter hal tersebut juga hadir: uang. Dikejar preman karena uang, dipertanyakan apakah project ini akan dikomersialisasi atau tidak? ditanya apakah jadi narasumber di dokumenter ada imbalan uangnya? Terang-terangan ditanya “kamu dibayar berapa?”. Diminta untuk membuka budget keuangan dalam project, dll hal-hal yang menyangkut dan berkenaan dengan uang, adalah sesuatu yang terjadi juga dalam realitas dan kerja-kerjaku.
Uang: ia seolah adalah sebuah pintu masuk untuk melihat apakah kamu akan menjadi setan rakus ataukah kamu bermimpi untuk menjadi monster sejati?
Peristiwa-peristiwa yang belakangan berentetan terjadi itu: expert yang selalu menghindariku, menyimak kasus Luvi, bertemu Surya Tjandra, cerita tentang Said Iqbal yang belum lagi kukenal, juga para tokoh di dokumenterku sebelum project ini, pun para pejuang HAM yang telah meninggal karena tak sudi bersekutu dengan ketidak-adilan dan tak berkenan dibeli oleh uang… mereka jadi inspirasi nyata untuk sebuah pertanyaan: siapakah sebenarnya diri kita ketika melakukan project-project yang meng-atasnamakan kemanusiaan?
Hhh…
(*tarik nafas*)
*in my way to be a monster*
_________________________________
Note:
Di antara peristiwa-peristiwa yang bikin aku mengerutkan kening
ketika bertemu dengan orang-orang yang ribut lebih dulu
mempertanyakan uang, hal-hal yang mengagumkan selalu saja terjadi.
Dan ini yang paling penting dari segalanya: pertemuan-pertemuan
dengan para sumber inspirasi yang mau meminjamkan cerita
dan pengetahuan hidupnya dengan berani.
Para narasumber yang mengemban misi-misi kemanusiaan.
manusia-manusia yang kelak, mungkin, suatu hari nanti akan bermetamorfosa menjadi monster sejati.
Aku merasa sangat beruntung bertemu dan bisa belajar dari mereka.
Mantab, rekan Ucu Agustin.Tulisan yang menyentuh. Dan terbukti tulisan yg sudah terkategorikan sbg MONSTER karena berisikan tentang MONSTER TIDAK banyak yang mendekat macam memberikan tanggapan/komentar. Mungkin takut tertular \”penyakit menular\”. Sukses selalu.Salam,Barkah
LikeLike