ini hari kedua,
…aku ingin menulis luka
ada kesedihan dalam perjalanan itu. aromanya seperti bau roti croissant yang gosong dengan gula yang amat banyak. tercium begitu pekat. sangat manis dan kita tahu benar, ada yang telah habis terbakar. disana. pada gula yang manis, sesuatu telah habis.
kau mengerti kan maksudku?
kesedihan itu terlalu kental mengapung dalam perjalanan. seolah ia adalah udara terakhir yang mengalir di suhu tubuhmu sebelum mati. hampir seluruh jiwamu pergi. seolah hampir semua bagian jantung itu malas bekerja untuk menghirup dan memompa udara…
ini piknik dengan latar kesedihan yang disadari
sadgenic picnic
mungkin harusnya itu yang kutulis jadi judul untuk cerita ini
hanya saja seseorang telah mengambilnya menjadi judul sebuah buku
menggunakan kalimat itu terlebih dahulu dan aku agak enggan dikatai pengambil alih
sebab hari-hari terakhir ini yang kuinginkan hanya ingin mengambil alih matamu, perhatianmu
tapi sepertinya gagal
kau tak luluh
kau tak ada disini dalam perjalanan ini
perjalanan menuju luka..
kita sebut saja perjalanan itu begitu, bagaimana?
semoga kau setuju dan menyenanginya di ujung sana, ya.
dia bercerita tentang kekasih 6 tahunnya yang baruuuu.. saja pergi. aku bercerita tentang kekasih, mantan favoritku yang telaaaah lama pergi. ada derakan marah dari nafas yang keluar saat ia bercerita tentang kisah miliknya. ada aroma tangis tertahan dan putus asa, saat ia melanjutkan paragrap demi paragrap kisahnya. luka itu mungkin masih seperti kawah gunung tangkuban perahu yang tak jadi kami kunjungi. mungkin.
itu luka yang dingin dan cair. luka yang dengan balutan kesedihan yang dibuntui sedikit amarah namun disadari cinta pada akhirnya memang… adalah sesuatu yang harus diijinkan pergi. tak ada yang abadi. segala yang kita miliki adalah hanya antara hai dan selamat tinggal. meski tentu pada moment-moment ketika ia memesona kita dalam situasi magic yang indah, sebentar kita merasa bisa memiliki cinta yang ‘stay’ – tentu saja, sebelum kumparan waktu menabrak-nabrakkan hati dan kepala. melogikakan yang cinta dan yang drama. membuat kita berpikir tentang luka dan harga.
dan aku sangat merindukanmu… begitu ingin mendengar kau berkata-kata tentang luka itu juga. luka di hatimu yang pernah kau miliki, pasti. melihat sendiri dengan mata ini bagaimana mata bergeloramu yang seperti matahari ingin selalu bangun, bersaput kabut. hingga aku – untukmu dan demi mu- ingin mengubah diri menjadi siang, yang dengan bantuan panas bumi, bersama kami mengusir kabut dingin di ujung lukamu itu. menyingkirkan pergi semua lara yang masih menempel di kisi hati. menyirnakannya dengan cahaya yang kelak senantiasa selalu bisa kita nikmati bersama. namun kau tak ada disini dalam perjalanan ini.
ini hari kedua,
…aku tak berkirim sapa padamu kemarin dan hari ini
sadgenic picnic,
akhirnya kupakai juga kata itu kali ini disini
masih punya siyh aku, obsesi itu. tersisa disini seperti harapan. tentang berjalan atau pergi bersama denganmu ke suatu tempat, menyusur waktu. berdua atau berkelompok dengan teman-teman yang lain, dan kamu ada di antaranya. tentu saja dengan aku juga disana.
dari belakangmu atau saat berjalan bersisian, aku akan diam-diam memberi perhatian lebih untuk mendengar tawamu memecah pagi. diam-diam hingga tak akan kau ketahui, aku akan melihat kakimu melangkah menendang kemasygulan, memandangmu mengagumi deretan pohanan langka di hutan atau deburan ombak memecah pantai, merekammu saat mengabadikan waktu dan alam dengan kamera yang selalu kau sandang kemana-mana. dan tentu tanpa kau tahu, akan kurencanakan keberadaanku untuk selalu menyertaimu; memperlambat langkah atau mempercepatnya asal kau selalu bisa seirisan rotasi putaran denganku, bersisian selalu. berbincang tentang hal bodoh. mengomentari langit di ujung senja yang selalu menipu kita. menyadari bahwa keindahan hanyalah sementara. mengetahui bahwa yang harus kita persiapkan adalah bersama selalu, justru dalam kegelapan. sederhana. bersama.
namun kau tak ada disini dalam perjalanan ini
kau tak hadir dalam peristiwa dimana gen kesedihan mengalir bersama waktu dalam perjalanan
hmmm….
baiklah,
karena selalu aku mendengar cerita dia dan sangat ingin – selalu, untuk mendengar ceitamu, kuputuskan agar kailan kini juga bisa mendengar sekelumit pengakuanku. Begini ya…:
katanya siyh tahun ini aku harus pasif.
dan itu saran dari para bintang untuk posisi keberadaan bintang pada pusaranku di rumah ke delapan.
aku tak tahu kamu berbintang apa, hanya saja asal kau tahu biasanya aku percaya pada mereka: bebintang yang berkerlip di angkasa. tapi kali ini… nggak ah. tak kan kubiarkan bintang-bintang di langit itu ditafsir oleh segerombolan orang bumi konyol yang lalu menuliskan hasil analisa tak pastinya di halaman-halaman majalah dan portal online, menjebak manusia-manusia tak punya pegangan pada ramalan-ramalan di halaman majalah dan koran. tapi jujur kuakui, kalian harus tahu bahwa biasanya aku percaya ramalan-ramalan dari batu-batu cahaya di angkasa sana tersebut. kupercayai mereka sebagai sumber bisikan untuk menentukan gerakan, mengatur posisi dan keberadaan, sedikit dijadikan sebagai guide untuk mengerti apa mau cinta hari ini, dengan siapa seseorang lebih cocok berada bersampingan; leo aries sagita berjodoh dengan gemini aquarius libra ; anak-anak air seperti pisces cancer scorpio berjodoh dengan anak-anak tanah seperti taurus capricorn dan virgo… , hanya noh! kali ini tak akan lagi kupercayai hal itu. karena aku…
memang kau tak ada disini dalam perjalanan ini
hanya saja aku percaya pada kerlip mata
dan aku tahu aku telah jatuh cinta padamu saat kali pertama kita berjumpa.
aku percaya pada penglihatanku
bahwa siang itu.. aku ‘melihat sesuatu’
ia yang semacam medan dengan edaran poros yang memiliki begitu banyak magnet
kuat dan berdaya
tampil dalam sosok biasa, penuh semangat, bersahaja
aku tahu kau tak ada disini dalam perjalanan aku dan dia kali ini
dan aku juga tahu pasti banyak, sangat banyak mahluk yang tertarik denganmu
pasti banyak yang terperangkap oleh inner energi, pesona serta sikap positifmu

dan kamu begitu gembira. di antara mereka yang dunianya begitu sepi karena tak mendengar, di antara mereka yang dunianya begitu syahdu karena tak melihat, di antara mereka yang dunianya begitu rapuh dan terbatas karena bergerak saja terasa begitu menyulitkan… kamulah bintang yang melesak jatuh itu. yang turun dari lapisan langit kedua, dan menabrak-nabrak banyak hal, melalui banyak kehilangan, lalu bersinar tak terbatas di antara mereka. menyilaukan.
kau tahu, waktu itu aku memilih tertunduk
tak mau aku menatap sinarmu
takut aku untuk melihatmu
aku memilih pergi dan menunduk
tapi cahaya itu, kau tahu…
ia milikmu dan terlalu tajam untuk tak menusuk mataku.
kau tak ada disini dalam perjalanan ini
perjalanan yang sebenarnya sungguh, sangat ingin kujadikan kesempatan untuk mendengar cerita dari getaran gen sedihmu hingga bisa kugeletakkan setelahnya buket-buket senyum di atas wajahmu. hingga bisa kulihat lagi cahaya menyilaukan itu muncul dari matamu
tapi kau tak hadir di sadgenic picnic
dalam perjalanan menuju luka, aku hanya berdua dia
melahap matahari sayu di pangkal pagi
mendengar kisah tentang hati yang memar karena sedih dan pengkhianatan
ini hari kedua,
kita tak saling bersapa
katamu, kemarin sore turun hujan ya?
dimana?
dari perjalanan menuju luka,
aku hanya bisa membungkuskan senja hujan yang turun sebentar waktu itu
semoga kau suka,
meski kubungkus ia dalam jalanan panjang berdaun luruh yang penuh luka

