Riang dan Kalah

Sesuatu berdebar di hati saya saat perbincangan kami dalam perjalanan pulang dari Salihara ke Utan Kayu malam ini tiba pada kalimat “walaupun riang, tapi hatinya selalu berada pada orang-orang yang kalah…”

Darimana Erik bisa mengucapkan kata-kata itu?!

Rasanya itu seperti berkenaan dengan apa yang saya tulis.
Rasanya itu seperti berkenaan dengan apa yang saya bikin.
Rasanya itu seperti berkenaan  dengan alam bawah sadar.
Saya pikir, itu juga rasanya seperti berkenaan dengan upaya pencarian saya akan diri saya sendiri

Kenapa saya menulis seperti itu – dengan tema-tema seperti itu?
Kenapa membuat film seperti itu – dengan tema-tema seperti itu?
Kenapa memilih mendiami dan menyenangi casing ‘penampakan luar’ yang selalu ceria itu?
Kenapa saya berhenti memakai baju hitam setiap hari seperti yang dulu saya lakukan?
Kenapa saya tak mau orang-orang mengenali saya sebagai sesuatu yang serius?
Kenapa saya kini mengenakan baju-baju berwarna?

‘Walaupun riang, tapi hatinya selalu berada pada orang-orang yang kalah’

Kalimat di atas itu, tercetus untuk seseorang yang tak berada di antara kami dalam perjalanan numpang saya di mobil ayu dan erik, tapi saya merasa… hati saya juga di sana: pada orang-orang yang kalah. Sikap saya juga begitu: riang – meski tentu orang-orang tak pernah tahu warna interior sesungguhnya ruangan-ruangan hati dalam diri saya.

Kata account twitter ILLUMINATI:
Dan ya, adalah moral dan kepercayaan yang membuat saya memilih ada di sana kini:
berwarna lebih ceria

Adalah moral dan kepercayaan juga nurani yang membuat saya memilih ada di sana kini:
bersama orang-orang yang kalah.

Orang-orang seperti kita selalu kalah: dalam sistem, dalam perebutan untuk kuasa-kuasa narasi besar, dalam hak kemanusiaan yang seharusnya diberikan pada manusia. Negara selalu menang, individu yang tak sama dengan nafas sistem negara, tersingkir. Berada di luar.

Saya tak keberatan berada di luar.
Saya tak keberatan berada bersama orang-orang yang kalah
Saya tak keberatan berada dalam gerimis perjuangan untuk menuntut persamaan hak
Dan saya telah tahu bagaimana cara menghadapi dan menjalani semuanya : dengan hati yang riang.

Ya, meski riang… tapi selalu hati ini ada untuk mereka dan seseorang seperti diri saya: orang-orang yang kalah***

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

Leave a comment