Ada hujan mulai turun di ruangan itu
Aku merasakan semaian-nya satu-satu jatuh
Bukan melalui rintik tapi melalui lirik;
“selalu ada yang bernyanyi dan ber-elegi dibalik awan hitam
seperti pelangi setia menunggu hujan reda
aku selalu suka
sehabis hujan di bulan desember
bulan desember…”
Setengah magic! Cholil malam itu membawakan lagu terakhirnya bagus banget. Harus dibilang begitu karena hampir setengah dari penampilan Efek Rumah Kaca yang jadi penutup acara di malam penganugerahan Wahib Award di Salihara, terdengar nggak gitu jelas. Sound nya nggak bagus, menurutku siyh. Tetapi oh tetapi saat Cholil berakustik ria dengan gitarnya.., nah tuh! kedengaran deh suaranya!
Aku juga suka hujan di bulan desember. Sebenarnya, aku suka desember saja siyh, dengan atau tanpa embel-embel hujan. Begitu. Kalau mau yang sebenarnya lagi, itu karena entah kenapa, desember tuh semacam bualn agak keramat dan masokis bagiku. Ada kepahitan, teman-teman yang rata-rata patah hati dan putus di bulan Desember (hehe, aku juga pernah once), daun-daun yang jatuh, pohon-pohon yang tiba-tiba jadi romantis sehabis diguyur hujan, udara yang dingin, kaki yang jadi basah, juga banyak moment semacam festival-festival film yang untuk sampai ke venue nya, harus menerobos luruhan air terlebih dahulu. Itu mungkin kali ya, kenapa desember agak spesial dibanding bulan lainnya. Juni spesial juga siyh, tapi… [meski sedikit, efek puisi Sapardi yang bikin bulan di tengah itu menjadi agak luar biasa kali yaks? hehe. entah]
Aku ada di sana – bulan yang belum lagi desember tapi baru november, tepatnya tanggal 2 malam harinya. Ada di moment tersebut untuk pura-pura menjuri. Terlibat dalam acara Wahib Award atas ajakan kak ichank, membuatku bertemu Fahd, Afra, Cholil… dan belakangan, bertemu dengan sederetan anak muda berbakat, berbakti, masih pada lurus-lurus, dan aku tahu.. suatu saat kelak, mereka akan berbahaya! Sudah sih sebenarnya…
Yup, mereka akan sangat berbahaya nanti.
Lima atau tujuh tahun ke depan.
Aku harus bercerita tentang ini, karena di antara 9 tawaran kerja yang kutolak tahun ini, Wahib Award adalah sebuah pengalaman baru. Nggak pernah siyh, ini kuanggap sebagai kerjaan, tapi teteup aja ya booo.. akhirnya yak, ini memang kerja. Kerjaan. Secara harus baca puluhan esai, puluhan blog dan melakukan seleksi belasan video yang di submit oleh para peserta kompetisi ke Wahib Award tahun ini. Ya cobalah itu apanya namanya coba hayooo kalau bukan kerja? … kerja untuk mensupport teman yang tengah berikhtisar untuk terus dan selalu mencari bibit-bibit di ladang pluralisme #Eaaaaa….
Ichank – Ihsan Ali Fauzi, senior, teman, inspirator, ia selalu penuh energi dan berapi-api. Di mataku idenya selalu bagus dan aku tahu.. dia peng-endorose paling sejati untuk hadirnya jiwa-jiwa muda yang layak diapresiasi dan dihargai. Ihsan, Ichank, or what ever you name it lah.. si kakak kita ini, juga selalu percaya bahwa di antara genangan kesedihan yang dari hari ke hari yang semakin membuat kita marah di Indonesia karena semakin mengentalnya nafas fundamentalisme di negeri bekas jajahan Soeharto ini, somewhere entah dimana… anak-anak muda yang paling bisa diharapkan di negara ini pasti ada!
Ihsan percaya, mereka – anak-anak muda ini pasti juga sedang resah atau sedang berpikir tentang hal yang sama mengenai kondisi negara ini. Nggak usah muluk-muluk berharap mereka sepinter si Mark Zuckerberg atau sekeren Tan Malaka muda.. nggak penting lah itu! Yang penting, untuk sementara ini mereka punya concern dan bisa menuliskannya dalam sebuah kompetisi: Video – Blog – Esei.
Dan menurut Ihsan, mereka harus dijaring dan mungkin juga harus dijebloskan lebih dalam. Dijebloslan kemana? Ya tentu saja, ke kondisi yang mendorong budaya keberagaman dan keberbedaan menjadi lebih semarak di Indonesia.
Bah! terdengarnya terlalu heroik ya?
Tapi, you like it or not, memang heroisme semacam itulah yang menjadi mimpi dan jantung pencarian anak muda dalam penghargaan Wahib Award ini. Selalu.
Dan tersebutlah dua orang ini dari hasil persemaian – pencarian – penemuan – di Wahib Award tahun ini: Si Armand Dhani sebagai pemenang kategori blog yang menyuarakan pluraisme (sila lihat blog-nya : http://terumbukarya.blogspot.com/ ), dan si Nicholaus Prasetya di kategori penulisan esei yang penampakan visualnya sempet bikin Cholil heboh karena menurut Cholil si Nicho ini mirip Lee Min Ho.
Whaaaatttt? Siapa pulak itu Lee min Hoooooo?
“Cholil, gue nggak tahu booooo siapa yang lo maksut dengan Lee Min Ho. Mahluk apa itu?”
Dan Cholil si front man Efek Rumah Kaca yang secara penampakan sehari-hari berkesan kalem itu tanpa disangka langsung browsing dan memperlihatkan fitur artis kondang korea yang emang ganteng sih… dan si Nicho dengan potongan rambut seperti itu… ahaha, ya memang sih… lumayan lah kalau sampe bisa bikin Cholil kesengsem. Hihi. :p
Dua begundal ini.. sampai sekarang jadi teman.
Sampai nanti juga akan jadi teman saya sepertinya.
Yup, mereka inilah teman-teman muda untuk masa depan bersama kita di negeri yang sejak dulu memang adalah negeri plural nan bhineka. Kayak ragam dan beda, namun kini tengah bertransformasi menuju sebuah negeri yang tampak makin tersuruk dalam radikalisme dan kedangkalan pikiran yang tak mau mnegutamakan perbedaan.
Teruslah menjadi begundal tuk bela perbedaan, wahai teman muda ku yang hebat…







