aku merapikan benda-benda
siang jatuh lebih cepat di luar jendela
percakapan ini tiba-tiba mendarat
begitu mulus seperti beberapa mimpi tentang kita bercinta
di benak belaka
aku : kenapa tak telpon kalau kangen
kamu : kamu marah mulu
aku : kamu juga. segala hal ditanggapi dengan sok santai
kamu : kamu tuh semuanya harus bertarget
aku : trus kenapa? kalau nggak suka, kamu bisa pergi. toh sudah
kamu : pernah nyesel?
aku : kalau lumba-lumba bisa, kenapa kamu pikir aku nggak?
kamu : (diam)
aku : eh (sambil menyikut lengan)
kamu : (tetap diam)
aku : kenapa sih emang nyinggung-nyinggung sesal?
kamu : auk. tiba-tiba aja pengen ngomong gitu. (jeda)
aku : (kikuk)
Kamu : aku bikin kopi dulu
aku : .. eh, kenapaaa…..?! (berusaha menahan)
kamu : bentar, bentar… santai…
aku : ck. ah kamu…
kamu : woles, oke?
kamu pergi
bikin kopi
54 minggu berlalu
tak ada aroma kopi yang hinggap kembali
tidak di hidung ini
juga di sela tatakan kayu yang biasanya tumpah kena kopi mu
cahaya jatuh
aku merapikan benda-benda
juga sisa senyummu yang masih bergeletakan di dapur kayu kita
siang tiba lebih cepat di luar jendela
kemana perginya hal-hal yang saling tak terungkapkan?
54 minggu
kita terpisah dalam irisan.
~ for you I bleed my self dry ~
