aku mengerti (lagi), bahwa aku bukan Icarus. dan pelajaran itu masih tetap sama: hal paling pertama yang harus kau pelajari tentang terbang adalah gravitasi.
turbulensi ini membuatku merasa seperti sedang berada di pesawat. terperangkap tanpa bisa terbang keluar padahal ku tahu kau tengah menjerit di sana. aku pun menjerit. menjawab panggilanmu tapi ku tahu kau pasti tak bisa mendengar. seperti ku tahu saat kau begitu ingin berada di sisiku, tapi kamu nggak bisa peluk aku. pelukanku pun hanya berbalas udara. hampa.
karena ruang
karena waktu
karena bila kau memotong sebuah apel, sebenarnya kau sedang memotong ruang dan waktu. maka dengan begitu, bila setiap hari kita bisa berpandangan melalui skype dan suaramu berjam-jam menggaung dalam transfer frekuensi melalui whatsapp call, tapi tetap aku tak bisa menyentuhmu, kamu nggak bisa usap rambut pendekku, dan kita nggak bisa rebahan bareng sambil genggaman tangan kayak biasa kalau kita lagi berada di tempat dan waktu yang sama, maka itu pasti karena ruang, maka itu pasti karena waktu. ruang dan waktu kita adalah ruang dan waktu yang berbeda.
jangan nangis
jangan menangis sendirian
tunggu aku
nanti kita nangis bareng..
ya,
kamu janji ya.., jangan nangis sendirian
kumohon
aku udah nangis sendirian terus berminggu minggu di bulan ini. rasanya nggak enak. tenggorokan kayak kebakar setelahnya. lidah pahit. mata jadi sembab itu udah biasa, tapi hati yang jadi berkelana dengan perasaannya sendiri itu yang paling nggak bisa aku tanggulangi.
kamu jangan nangis sendirian. tunggu. nanti kita ngumpul dan nangis bareng. airmata kita, kita loakin di flohmarkt. semoga ada yg menjadikannya pupuk. atau tetap menjadi air hingga bisa ia pakai tuk nyiram tanaman. atau biarkan saja lah mereka jatuh di pipi pipi kita, tapi nggak usah dihapus. biarkan sebagiannya jadi uap. pulang ke udara. biar mereka bisa agak lebih dempetan sama langit. ngedeketin bebintang.. bisa nyapa kartika.
aku belum juga sembuh dari luka kehilangan itu. pun masih ingin berduka. masih ingin menangis. masih ingin buatin kuburan buat dia. hancur hatiku melihat dia hancur di dalam rahim angkasa-ku. perih saat mengucap namamu namun kamu tak ada dan panik saat melihat antara tembok dan layar tempat denyut nadinya hilang, adalah pengalaman hidup banyak manusia yang nampaknya sepele namun ternyata cukup besar dan bisa jadi lompatan tinggi tuk kemanusiaan persis seperti yang sering dibilang orang tentang astronom pertama yang menginjakkan kaki di bulan si neil armstrong itu…, satu langkah kecil manusia di bulan adalah satu lompatan besar untuk kemanusiaan. Begitupun yang terjadi di dalam aku: diri yang adalah manusia perempuan. pengalaman kehamilan, keberadaannya dalam rahimku sebelum ia berperang dan gugur di dalam kandungan.
Adapun tentang kembang putihmu…
kembangmu putih itu wangi dan tiap hari lili-nya berkembang serta terus berkembang bermekaran meski saat awal datang menemaniku di kamar, kuncup-kuncup bunga itu tak semeriah krisan yang mengatakan belasungkawanya dengan jelas melalui kelopak-kelopak bunga mereka yang terbuka. di dalam kartu ucapan yang datang, kamu bilang… “suatu hari kartika pasti kan kembali ke planet ini”.
dan tentu saja aku tak akan lupa bagaimana tubuh dan perasaanku menyambut datangnya bungamu.
aku begitu tak kuasa menahan pedih. bukannya tak mau, tapi kamu tiba dengan bungamu di saat yang paling tepat untuk aku berasa begitu nelangsa. perutku masih sakit dan kartika almarhumah masih berada di sana. ia sudah tak berdenyut. ia tak menendangku tapi ia dengan jiwanya yang sudah tak disana menimbulkan kontraksi-kontraksi juga perasaan konstipasi yang menurut para dokter dan bidan, itu adalah hal wajar saat tubuh menolak sesuatu yang sudah mati tapi sesuatu itu tetap masih berada di sana.
aku begitu pedih. campuran antara kentalnya sedih dan sakit yang cabikannya ada di badan juga tergores di dada. bungamu.. saat itu tangan ini menampiknya karena bunga bunga dalam rangkaiannya seperti memiliki tangan-tangan yang mampu memeras kantung airmata. mereka tak berhenti berlelehan di pipi, dan aku nggak begitu suka pipiku sering sering basah saat itu. membuat aku harus terus gerak, padahal gerakan yang agak banyak membuat kontraksi terangsang dan rasa sakit jadi timbul lagi.
bunga putihmu bikin perasaan dan juga suasana jadi tambah sedih lagi. kalimat di dalam kartunya, bikin kesedihan jadi begitu sarat dan padat. kata-kata yang kamu rangkai di kartu itu jadi semacam janji termanis sekaligus janji yang paling pilu yang pernah aku baca di dalam hidupku yang paling belakangan ini.. dan tentu, aku kan menunggu hari dimana kartika bisa ada tuk bersama-sama kita suatu hari nanti yang semoga tak terlalu lama lagi.
sayang, jangan nangis… kamu jangan nangis sendirian dulu, karena kalau boleh milih dan tak terbelah ruang dan waktu yang membikin kita tak bisa bersama saat itu, aku pun nggak mau nangis sendirian waktu itu.
tapi waktu ini sepertinya adalah bukan waktu untuk melulu bicara tentangku lagi. saat ini aku harus bisa sedikit bergeser dan membagi ruang duka yang terus kududuki ini hingga bisa kumiliki ruangan untuk kulihat wajahmu.
dan saat aku belum lagi bisa melihat wajahmu dalam keadaan yang benar-benar utuh, saat ini aku bayangkan kamu sedang bersedih. jauh di dalam dirimu kamu mungkin merasa sedang tersedot di gurun pasir waktu. pelan tapi pasti pasir-pasir waktu itu kan menelanmu, suka atau tidak. atau kubayangkan saat ini hati dan pikiranmu mungkin berasa seperti sedang berada di gurun pasir yang gulana sepeninggal pergi para muasafir. begitu gersang dan sunyi hingga senyap bisa menimbulkan rasa yang disebut kalut sebelum maut. semua orang pergi. semua orang datang. termasuk kita. kamu. aku. mereka. tapi hendak pergi atau akan datang kemana saat rumah baru belum lagi ketemu dan pekarangannya belum lagi membuka tuk kasih selamat datang pada kita. haruskah kita terdampar di jalan?
karena ruang
karena waktu
karena mereka terus mengejar kita maka kurasa kita harus menyusun strategi. luka dan duka harus cepat-cepat dilipat dan dimasukkan ke dalam lemari. lelah harus dibawa berlari. ruang istirah harus ditaruh di telapak kaki karena kita digenjot tuk terus melangkah dan melangkah saat sedang tak bisa tuk berlari.
kita nangis bareng ya, janji.
karena airmataku ternyata sepertinya masih terlalu banyak tuk bisa kutumpahkan di pelukanmu. rasanya aku pun siap tuk menghapus duka-mu supaya tak abadi.
“kalau kita bersama, kita pasti akan kuat”
ingat..
kita harus tetap ingat kata-kata dan itu kalimat.
“jangan berpisah. karena bersama kita pasti akan bisa menjalani apa saja..”
dan tentu, aku tahu kalau kamu tahu bahwa hati kita semoga selalu memiliki kekuatan seperti angkasa. selalu luas. selalu kuasa. selalu bisa menampung apa saja: badai, cahaya, air, panas, dingin, hujan, dan salju salju besar atau butiran. semoga ia pun selalu terbuka. seperti pintu rumah, kalau kita hendak pulang kapan saja.
aku cinta kamu.
dan kamu tahu siapa kamu.
