Tentu saja nama itu sudah ada lama di kepala: Heidelberg. Jujur, agak lupa bagaimana nama kota itu tetap nyangkut di antara ingatan, sebenarnya. tapi bukan berarti aku nggak bisa mengira-ngira. Hmm.. mungkin aku dapetin nama Heidelberg itu dari antara kelas-kelas yang aku rasanya mungkin ikuti, entah di salah satu pelajaran sejarah tentang peradaban dan kota kota sewaktu kuliah, atau bisa jadi di salah satu materi di sekolah menengah Aliyah tentang bagaimana perang dan dunia pertengahan bergolak serta buku-buku saling dirampas di eropa dan pengetahuan saling diperebutkan waktu itu.
Hmm.. Bisa jadi!
Jadi waktu di Trier (Jerman) selepas mengunjungi rumah Karl Marx dan ada cowok yang kebetulan harus ambil kereta untuk pulang ke rumahnya karena besok pagi dia harus ngantor dan dia bilang, “Rumahku di Heidelberg”, otomatis sebenarnya dalam hati aku langsung… Waaaaaaa waaa waaaa Heidelberg! Ikuttt!
Tentu saja saat itu aku nggak ikut. Baru tanggal 15 bulan April tahun 2014 aku menjejak Heidelberg. 136 tahun setelah lelaki berambut putih, berkumis tebal dan bermata biru asal Amerika itu tiba. Selain fakta bahwa banyak filsuf yang berkeliaran di kota itu hingga ada satu ruas jalan di tengah hutan yang dinamai Philospenweg (jalan para filsuf — sekarang hutannya sudah terang), Heidelberg, salah satu yang membuatnya sangat terkenal di dunia selain karena menjadi satu dari dua kota yang dalam perang dunia II disepakati oleh para pihak yang berperang untuk tidak dihancurkan karena sejarah, universitas dan bangunan-bangunan tuanya, adalah lelaki penulis ini juga yang membuatnya menjadi terkenal. Nama aslinya Samuel Langhorne Clemens, asal Florida, Missouri, dan tentu saja dia seorang Amerika. Nama penanya pasti sudah akan begitu dikenal saat disebut; Mark Twain; dan saat datang ke Heidelberg ia memang sudah menjadi penulis yang cukup tenar, terutama di Amerika. Mark Twain tiba di Eropa tahun 1878 setelah pelayaran panjang dengan membawa istri dan anak-anaknya. Pada tahun itu juga sejak 6 Mei sampai 23 Juli, penulis itu memutuskan untuk tinggal di kota cantik tersebut untuk menulis.
Aku nggak tahu apa yang pertamakali terlintas di benak Mark Twain saat dia melihat Heidelberg yang dibelah sungai Neckar dan berselimut pohon almond dan pohon Fig, tapi aku masih ingat pertanyaan pertamaku baik-baik saat pertama tiba di kota cantik itu dan mulai meletakkan koper untuk membuat minuman di dapur seseorang, “Dimana para semut?”
“Semut?”, tentu saja ini mungkin pertanyaan yang terdengar aneh dan agak-agak kurang waras bagi sebagian orang yang sudah begitu terbiasa hidup tanpa binatang-binatang yang begitu banyak bermunculan di negara tropis, termasuk si cowok yang lompat ke dalam kereta di Trier setelah menyebut nama Heidelberg yang telah kuceritakan sedikit di atas itu, tapi itulah yang terjadi. Aku.. gadis negara tropis yang selalu diganggu semut, tak biasa dengan suasana dimana ada gula tanpa semut dimana-mana.

Sebelum melangkah lebih jauh tentang cerita sisi sisi Heidelberg si kota cantik yang selalu kukunjungi dengan rindu dalam musim-musim tertentu, aku ingin kembali ke Mark Twain si penulis Tom Sawyer dan Huckleberry Finn yang katanya begitu terinspirasi saat menatap bukit-bukit yang seolah hidup dan sungai-sungai yang beriak memberi kesan senyum saat dimainkan angin di sekitaran kota Heidelberg.
“Pengalaman di lembah Necakr tersebut cukup untuk membuat fantasi Mark Twain tergali dan perahu pelayaran mengapung dalam laut cerita“. Penulis biographi Twain, Justin Kaplan percaya bahwa perahu-perahu yang melayari sungai Neckar di seputar lembah Rhine Rifh yang seolah terperangkap di antara gunung Konighstuhl dan Geisberg sangat krusial untuk Mark Twain saat menuliskan karya-karyanya. “Dan bila itu sahih, maka kita harus berterima kasih pada Heidelberg karena telah membantu melahirkan Huckleberry Finn–salah satu novel terhebat dalam literatur Amerika,” begitu aku Kaplan.
Dan aku baru saja hendak memulai membaca Mark Twain. Bukan tentang si Tom. Juga bukan tentang si Huckleberry. Saat si penulis di Heidelberg dan ketika ia menulis tentang perjalanan-perjalanannya dalam “A Tramp Abroad” itulah yang akan kumulai di sini..
Mari kita sedikit mulai menjadi A Tramp, seorang pejalan kaki… di luar negeri.
PS:
Foto di bawah adalah salah satu foto yang diambil dengan mesin foto otomatis di rumah Karl Marx di Trier. Tak harus pake koin uang dan cukup tinggal pilih mana mode gambar yang akan muncul sebagai tanda kenangan kita pernah meyambangi rumah si bapak teori kelas tersebut, lalu mulai tersenyum saja, maka pada hitungan ketiga saat kita siap berpose si mesin foto akan mengklik sendiri tombolnya. Sebelumnya, si mesin bertanya alamat email kita karena ke sanalah nanti foto tersebut akan dikirim.
Dalam foto, tampak aku dengan lelaki berkacamata memilih mode gambar mbah Karl Marx yang duduk di kursinya dan berjenggot. Lelaki ini adalah cowok yang sebelum melompat dalam kereta mengatakan “Rumahku di Heidelberg!” dalam tulisan di atas.

