Dia Ingin Bertemu Peri Oleh: Ucu Agustin Langit masih merah kala Nenek mengatakan padaku hal Itu, “Peri bersemayam di sana, mengandung di akal kesepuluh, Bergelantungan meniti lembab udara” Ku tatap angkasa, sesuatu membersit di udara. “Itukah peri itu Nek?” Tanyaku dengan jenaka. “Yang kau lihat tadi adalah asap, sekelompok unsur yang tergusur. Sesuatu yang berubahContinue reading “DIa Ingin Bertemu Peri…”
Category Archives: Uncategorized
hari yang sibuk
kukecup kesibukan yang merangkulku sejak pagi. kerinduannya yang mendalam membuatnya tak mau melepaskanku. erat, dia memeluk pinggangku. genit, dia sibuk menggoda pikiranku. Dan aku hanya mampu membalasnya. menandaskan setiap bulir gairah yang ingin ditumpahkannya. Jemariku terus bekerja untuknya. kepalaku terus berpikir tentangnya. hatiku tak bisa kuterbangkan ke tempat lain dulu. Ini waktu di mana kesibukanContinue reading “hari yang sibuk”
Never Grow Old…
Peterpan sudah jadi Peterman. Lupa cara terbang dan tak tahu lagi bagaimana harus berpikir bahagia. Namun aku akan selalu mengunyah daun srilililim. Kupetik dari dahan pohon awan terendah yang tumbuh di tepi langit. Membuat hatiku abadi, selamanya menjadi seperti anak kecil. Dan aku ingin selalu berada di tempat Tink menunggu Peter; Waktu antara tidur danContinue reading “Never Grow Old…”
Anak-anak dalam kepala
aku bunting anak-anak yang kukandung dalam kepala menyanyikan hymne Athena sebuah lukisan yang mereka bikin jatuh di dinding rahim cat merahnya mengalir pelan di antara lubang vagina meluntur di antara dua paha menjelma janin yang tak pernah lahir anak-anak dalam kepala senyum semurni susu rambut ikal selembut beludru mata kejora cahaya deretan bintang-bintang yang mendekatContinue reading “Anak-anak dalam kepala”
Hujan Bulan Juli…
ada sepi menggeletak pada bulir serpih titik hujan bidadari merangkul puisi malaikat alpa bermain bola segelas canda mengerinyut menjadi kabut sebait senyum menghampa dibidik awan… ah, ini pasti cuma hujan bulan juli menggamit mesra tanganku mengajari ketuk salsa kesepian mengajakku menyusuri lagi dingin hari di bawah istana hujan***
Terlalu mencintainya? Atau aku harus membayar kekacauan?
Kukira aku terlalu mencintainya sehingga begitu saja, dengan demikian mudah aku melepasnya. Tak ada sesal, tak ada airmata, tak ada kecemasan melainkan hanya kecewa yang sebentar lantas setelah itu sadar bahwa segala sesuatu pasti ada maknanya. segala sesuatu pergi, segala sesuatu kembali… Namun kukira mungkin tidak hanya cinta, tapi juga siapa tahu telah tiba saatnyaContinue reading “Terlalu mencintainya? Atau aku harus membayar kekacauan?”
Aku baik-baik saja…
Ada yang berubah memang. Mungkin sekarang saatnya aku paham kalau aku memang telah menjadi orang yang berbeda. Ada penyelundup yang masuk dalam hati, jiwa dan pikiranku. Pelan tapi pasti dia bekerja, megubahku menjadi orang yang berbeda. Sama sekali tak kusadari sebelumnya. Yang kutahu dia memberi hempasan yang begitu besar, mengguncangkan semua fondasi yang kupunya untukContinue reading “Aku baik-baik saja…”
I’ve been already in heaven and hell
Rasanya aku bisa jatuh cinta padamu, sebab kau ingin mendengar ceritaku. Baiklah, beginilah kisahnya… Ketika malam menyemak dan yang tersisa tinggal lelah yang mengurap, aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka; penghuni Andromeda. Dia bertengger di atas pohon kelapa, dan aku menyaksikannya dari teras beranda. Dia terbang, mendatangiku tanpa sayap. Menghujaniku dengan senyumnya yangContinue reading “I’ve been already in heaven and hell”
Hihihi…. Belum Mandi Dah Jalan-jalan…
Jam sebelas lebih lima belas menit. Segelas air seperti kristal, setangkup telur dadar buatan teman. Dari semalam pikiran terus melayang tentang bagaimana harus kukisahkan lorong-lorong pribadi hati pada blogger ini. Ih dasar! mengganggu nian nggak seeeh? 😉 Jadilah maka jadilah! Bangun tidur langsung tergopoh ke lantai tiga kantorku. Sarung menutup dari pinggang ke bawah, mukaContinue reading “Hihihi…. Belum Mandi Dah Jalan-jalan…”
Dia bertanya, Dimana Bisa Dipelajari Seni Berkompromi?
Dia patah hati, bukan hanya remuk, tapi juga seluruh kepercayaannya kandas. Tidak karena masalahnya terlalu besar, tapi karena dirinya terlalu keras; ketika pecah, lempengan keputus-asaannya tertabur mengaur, membuncah kecil-kecil seumpama partikel, tak bisa lagi mewujud pixel. Alangkah sulitnya memahami. Dan banyak hal yang tidak mampu dipahaminya. Ia tak paham mengapa Tuhan tak langsung menumbuhkan pohonContinue reading “Dia bertanya, Dimana Bisa Dipelajari Seni Berkompromi?”