Two stories that reflect the abuse of public frequency by Indonesian media owners for both political and business gain, instead of public interests.

Related blog posts
Hope "The Perfect Day"
jadi baiklah… ceritanya saya sedang sibuk membuat film dokumenter tentang pers dan media di Indonesia nafas, cinta, energi, kesah, galau dan bahagia saya sedang tertunpah ke sana waktu untuk nulis di blog ini? terampas sudah, lah… kenapa semacam seluruh energi di ruah ke sana untuk project kali ini? dalam iklim orang mengenal pancaroba dalam hari…
Monster Sejati
Director’s Diary: Monster Sejati Monster sejati nggak bisa dibeli, Menghancurkan apapun, Ia punya misi Itu terlintas gitu saja… Kata-kata itu muncul bukan karena peristiwa Lady Gaga, bukan karena baru beberapa malam lalu lihat The Avanger-The Movie, nggak dimaksudkan tuk jadi sebuah lead selayaknya tulisan buat majalah, koran, juga artikel seminar. Nggak, lah. Sama sekali bukan! …