Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan I

Lelaki itu menyukai puisi seperti dia menyukai es krim. Puisi membuat hatinya meleleh bila ia sedang panas dan senyumnya rekah, meski ia tengah tak ingin. Dia juga menyukai kacamata pacarnya yang bertangkai hitam. Meski batang tebu—yang kulitnya telah dikupas—warnanya kuning agak kehijauan, tapi dia kerap membayangkan tangkai kacamata pacarnya adalah tangkai tebu. Kapanpun ia mau,Continue reading “Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan I”

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan II

Lelaki itu membeli sebotol Chivas, memasukkan roti garlic panjang ke dalam keranjang, tiga butir apel Fuji, setengah kilogram anggur hijau berwarna segar dan empat butir telur rebus beserta dua bongkah besar kentang bakar. Bermaksud untuk membuat kejutan, di bawah Tupperware kentang bakar, diam-diam si lelaki menyelimuti sebuah puisi dan hendak membacakannya di depan sang kekasih,Continue reading “Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan II”

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan III

“Kamu nggak senang ya, dengan tempat ini?” tanyanya. “Kebiasaan banget sih kamu, main sembarang tuduh saja.” Rosa tak suka kekasihnya tahu dengan pasti keadaan hatinya. “Nggak ada yang nuduh kamu, ah. Aku cuma bertanya kok.” Si Lelaki kini tahu pasti Rosa memang tak senang dengan tempat piknik yang dipilihnya. “Ya kalau kayak tadi cara pengungkapannya,Continue reading “Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan III”

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan IV

Mereka berdua berada tepat di tengah taman. Sebelah barat lahan parkiran, sebelah timur kerumunan keluarga yang sedang makan si di resto franchise, sebelah selatan danau yang berkeriyap menyilaukan sedangkan sebelah utara adalah hutan yang akan dituju si lelaki—tempat mereka rencananya akan menghamparkan karpet plastik tipis, nanti. Bila dilihat dari tempat di mana jejeran warung franchiseContinue reading “Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan IV”

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan V

“Plak!” Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi si lelaki. Menyadarkan keadaan basah yang mulai menguyupi kemeja kasual dan tentu saja—celana dalam si lelaki dimana adik kecil di dalamnya telah mulai bandel dan mengeras Rosa berhasil berontak dari dekapan. Perempuan itu berlari menuju tempat berteduh terdekat setelah menamparnya. Nafasnya terengah, entah karena sisa ciuman yang atasContinue reading “Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan V”