: Kepada Seorang Pemetik Gitar

Aku menjelma resah yang coklat
Kupu-kupu berterbangan dari jantungku
menjadi matahari tua yang sinarnya malam
Tak sepatah katapun keluar dari mulutmu

Apakah itu yang kau kulum di sana?
Adakah setia yang dingin mencairkan lidahmu
hingga kalimat yang menjelma antara kita malam itu adalah sunyi. Bisu. Kelu.
Padahal sejak pertama melihatmu
kutahu kau tak mirip siapa-siapa…

Apakah kau mengendusnya?
Aku jatuh cinta pada jemarimu yang kasat mata.

Tak perlu kau bakar senar itu dengan jarimu yang tak kunjung melepuh.
Senyummu, rayuan yang tak mungkin dilewatkan
Dan saat rambutmu jatuh di kening,
udara berbau jeruk membuat lingkaran di sekelilingku.
Menjelma balon gas udara yang siap menerbangkanku entah kemana.

Kemana? Kau ingin kita kemana?

Malam ini,
Aku cuma mau mendengar petikan gitarmu.***

Aksara, 22 Februari 2006
Sessi akhir malam launching antologi cerpen GLBT

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

2 thoughts on “: Kepada Seorang Pemetik Gitar

  1. halah! gue jadi malu booo…Secara satria pemetik gitar ini pasti banyak groupies-nya and doi pasti suka perempuan endah dipandang sebagaimana layaknya manusia kebanyakan kali…Hari gene masih ada lelaki yang bilang, \”perempuan yang indah bukan hanya yang sedap dipandang mata, melainkan yang memiliki makna\”. Aihhhhhhhhhhh…. 😦

    Like

Leave a reply to ucuagustin Cancel reply