Duka-MU Abadi…


Ada batas tipis antara sepi dan tawa
semuanya ter-marka di dada

Malam itu, ketika sapardi berkata tentang patahan dan pahatan puisinya di salihara, bibir saya terkadang bisa tertawa. tapi ketika saya melihat hasil tawa saya yang terekam di lensa obscura, saya tahu, sepi dan sedihlah yang membenam banyak di dada saya.

how i hate to smile, now…
sebab,
Duka-mu abadi?

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

One thought on “Duka-MU Abadi…

Leave a reply to Anonymous Cancel reply