Ignota

sayangku,
suatu hari kau pernah bercerita
tentang gelap di lorong mata para raksasa
tentang hening di meja makan rumah ikan hering
tentang ketakutanmu melihat dunia berjemari jahat yang beredar di jejuru kamarmu

padamu, selalu kubilang, ‘jangan takut sayang… jangan takut sayang…’
dan kau tahu aku selalu bisa kau andalkan
kujemput jejarimu dan telunjuknya kutekankan ke satu penjuru
saklar yang bisa menyalakan bintang-bintang gelap dan membuat hati kita lalu jadi hangat

tapi kini kau telah pergi, sayangku
hanya saja cerita itu masih kembali datang

seperti kelinci-kelinci kecil berbulu putih
seperti remah-remah serpih roti di meja sarapan pagi
mulanya seperti noktah, begitulah

lalu badai evelynn membesarkannya
membuat gelap yang dulu itu kini sepekat dua gerhana disatukan dan di atas mereka tertabur milyaran ton tinta milik cumi besar raksasa hitam
memasuki atap-atap kamar (bukan hanya kamarmu)
menggelapkan mimpi-mimpi orang yang tertidur di tatah ranjang
merayapi dinding-dinding transparan perasaan
membuat beku hatiku…

sayangku, apa kabarmu?

bila suatu hari kau ingat aku
bisakah gantian kini kau ambil jejariku dan arahkan telunjukku pada saklar itu?
biarkan bintang-bintang mati itu menyala lagi
terangkan bohlam pada hati hati mereka yang cahayanya sudah pudar

sayang…,
aku takut dan juga kangen kamu
kemarin mereka membunuh 3 orang saudara kita lagi

(Ignota; *catatan tak tercatat, seorang kekasih yang kehilangan kekasihnya pada kekerasan yang mengatasnamakan agama & tuhan)

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

One thought on “Ignota

Leave a reply to naveezh Cancel reply