Kegelisahan Personal *Belajar Dari Produksi "Jakarta Ketuk Pintu | Knock Knock Jakarta"

Di-tag di websitehttp://www.engagemedia.org/Members/ucu/videos/jakarta_ketuk_pintu/view sama Rico [Enrico Aditjondro], agak surprise juga saya baca berita dari koran Jakarta Globe yang Rico share di website tersebut.

Film dokumenter “Jakarta Ketuk Pintu | Knock Knock Jakarta” yang dibikin Oktober tahun lalu, ternyata jadi film yang ada dalam urutan pertama di list 5 Documentaries Jakartans Need To Wacth! versi Jakarta Globe.

http://www.thejakartaglobe.com/newsletter/top-5-documentaries-jakartans-need-to-watch/528057 

Aha!

Terus terang saya a bit surprise dengan hal itu bukan karena dokumenter ini dianggap sebagai film dokumenter tentang Jakarta yang harus dilihat oleh orang Jakarta [atau yang ingin tahu tentang Jakarta] dan list urutannya berada di atas ngalahin The Thoughest Place To Be a Bin Man yang diproduksi BBC, tapi lebih karena dari awal, film Jakarta Ketuk Pintu ini menurut saya siyh… dibuat dengan konsep yang agak salah kaprah  [sebenarnya penasaran juga siyh, siapa ya kurator di koran tersebut yang bikin list itu? hihi.]

Film ini diproduksi di antara kesibukan saya ngebantu si Teteh [Nia Dinata] yang waktu itu lagi bikin film dokumenter “Batik Our Love Story”. Saya bantu produksi film Batik tersebut sebagai researcher-scriptwriter. Jadi ya gitu deh… Pekalongan, Lasem, Yogya, Madura, dan Solo jadilah mereka sebagai tempat-tempat yang sering saya kunjungi di tahun 2011 kemarin. Setelah agak reda dari kegiatan terbang-terbang ke daerah untuk riset dan shooting tentang batik tersebut, mulailah saya dengan tim kecil saya: Sally Anom Sari dan Affan Diaz melakukan riset dan produksi untuk Jakarta Ketuk Pintu.

Melalui RUJAK atau Ruang Jakarta yang di-mafia-i Marco (Kusumawijaya – and geng), saya dan tim masuk ke beberapa komunitas yang ‘berperkara’ di Jakarta. Salah satu yang paling resah dan kasusnya sedang berjalan waktu itu, ya tentu saja komunitas atau paguyuban warga Antasari. Berkenalan dengan Pak Cahyo Tamtomo ata yang biasa dipanggil Pak Tommy sang ketua paguyuban yang energic dan meluap-luap bicara tentang buruknya pengaturan RTRW oleh Pemda di Jakarta, tentu saja sangat menginspirasi dan membuka mata. Pak Tommy mengerti betul tentang bagaimana tata kota karena selidik punya selidik, ia adalah lulusan harvard jurusan kependudukan dan tata kota, dengan spesialiasi ilmu di bidang ‘city war’. Nah lho!

Pak Tommy, Ketua Paguyuban Warga Antasari.
Ia sangat geram dengan ketidakbecusan Pemda Jakarta mengatur kota.
Mengacak-acak lingkungan dengan membangun naga beton di kota, benarkah itu bisa menuntaskan kemacetan?

Bertemu dengan pak Tommy tentu saja mendentingkan sesuatu di kepala saya: ‘aha! ini saatnya niyh.. akhirnya tiba juga saya bikin dokumenter tentang lingkungan’. Begitu pikir saya waktu itu.

Sudah lama siyh, pengen melakukan sesuatu yang bisa kasih kontribusi untuk masalah lingkungan. Pengen bikin tentang Sarongge, nggak jadi karena proposal pitching-ku nggak di approve. Pingin bikin tentang petani kopi dan kasus tanah di lembah masurai-jambi, gagal pula karena kemahalan dana dan nggak ada funding. So…, begitu datang kesempatan dari Yayasan Ladang Media yang bekerjasama dengan TIFA ini, saya pikir saya mau bikin sesuatu tentang : LELAKI, KOTA, DAN POHON ah… Waktunya untuk bikin apa yang saya pengen bikin: dokumenter pendek tentang lingkungan!

Pak Tommy sangat cinta Antasari-nya. Dia juga punya kenangan dan romantisme yang dalam dan erat dengan pepohonan yang tumbuh di jalanp-jalan samping kiri-kanan Antasari tersebut. Bukan hanya mengerti bahwa 1 pohon bisa berkontribusi untuk kehidupan 2 orang manusia, tapi ia juga sangat paham tentang penderitaan pohon-pohon yang dijajar di tepi jalan untuk menghirup polusi dan aneka bahan hasil pembakaran yang bisa menjadi muasal penyakit bagi manusia seperti Isfa dan gangguan pernafasan lainnya.

“Pohon-pohon itu,” kata Pak tommy, “Mereka merelakan dirinya menghitam, kulit tubuh kayunya mereka berikan untuk membakti bagi kebaikan lingkungan. Menyerap ratusan kilo polutan kota setiap hari, apalah itu tidak menjadi beban?” Tanyanya yang lebih menyerupai pernyataan.

Yup, berterima kasihlah para manusia pada pohon-pohon yang masih tegar berdiri melindungi manusia untuk kebaikan kota-kota, timpal saya dalam hati.

Pak tommy punya license sebagai pilot. Sejak kecil ia memang sering diajak terbang ayahnya yang adalah salah seorang jenderal angkatan udara terkenal di masa Soeharto. “Bila melihat daratan atau alam dari ketinggian, yang muncul selalu adalah keinginan untuk melindungi. Menjaga supaya alam yang dibawah dan sering kita lihat indah itu, tetap terjaga dan lestari begitu. Selalu baik dan indah dipandang mata juga berguna untuk para mahluk yang tinggal di atasnya”, begitu komentar pak tommy selalu kalau ditanya tentang kenapa ia sangat ingin melindungi daerah antasarinya dari gangguan pembangunan jalan layang non-tol dalam kota yang digagas oleh gubernur Jakarta si kumis Foke.

Membawa ide tentang lelaki di kota yang mencintai pohon dan ingin menjaga pohon di kotanya ke meeting dengan teman di Ladang Media dan TIFA, adalah agenda yang membuat saya berseri. Saya selalu berpikir, sebagai pembuat film indie yang selama ini non profit dan berorientasi karya, bisa menghasilkan film kecil atau sesuatu yang bagus yang nanti kita senang menyebut dan meng-klaimnya sebagai karya film kita, namun dengan didanai dari dana funding untuk project, tentulah itu merupakan sebuah ‘luxury’ yang ideal. Kita bikin film, tapi nggak harus melulu ngerogoh dari kocek sendiri plus ada gunanya untuk dipakai kampanye oleh siapa saja yang mau menggunakannya untuk advokasi lingkungan dan arah politik yang lebih baik lagi.

Tapi inilah yang harus saya dan tim saya hadapi. Dan saya yakin, inilah pula yang dihadapi oleh banyak teman pembuat film yang ‘dipesan’ untuk membuat  film oleh sebuah NGO atau lembaga funding. Hal-hal yang sifatnya ‘membebaskan’ dan ‘kreatif’ sangat sulit untuk dilakukan. Pesan disana sini dan close supervision serta keharusan menjadi agen untuk deliver the message yang tebal merupakan salah satu yang menghambat kita sebagai pembuat untuk meng-create sesuatu yang menurut kita bisa sangat ‘soft’ sebagai pesan dan menyenangkan untuk ditonton hingga akhirnya akan bisa mempengaruhi lebih banyak orang dan membuka pikiran bukan hanya untuk komunitas atau kelompok penggiat tertentu saja yang menjadi target/sasaran, tapi juga semua orang yang melihat dan memiliki concern terhadap hal tersebut.

Amin, teman saya dari Ladang Media, mulanya bilang ke saya, “Ucu, kita ingin membuat film dokumenter”. Dan yang saya pahami sebagai film dokumenter ya ‘film dokumenter’. Tetapi dalam perjalanannya… ada muncul dari pihak pemberi dana, kalimat yang bukan hanya mengatakan tapi juga menegaskan bahwa: “Kita ingin membuat film campaign”.

“Ups, oke… Jadi ini yang bener yang mana niyh? Film dokumenter atau film campaign?”
Jawabnya: “Film campaign berbasis dokumenter”

+ Hmmm…. Ok, kalau ide semacam Lelaki, Pohon dan Kota, itu bisa jadi film kampanye juga kan?
– Oh bisa.

+ Ok, kalau begitu tak ada masalah.
– Tapi ya masalahnya harus jelas! Karena kita kan lagi membuat film campaign tentang UU Keterbukaan Informasi Public. Jadi ya lebih diarahkan ke bagaimana masayarakat kalau mencari informasi. Dan lembaga publik tersebut, mereka harus juga dicapture bisa melayani kebutuhan masyarakat akan informasi.

Baiklah… 
Bila begitu, 
Itu artinya sudahlah… Film Campaign!

Putus saya dalam hati beberapa minggu kemudian setelah melakukan beberapa riset di lapangan dan melakukan beberapa pertemuan dengan penyandang dana juga Ladang Media – NGO yang mengontak saya.

Harus memutuskan cepat! Itulah yang paling penting dilakukan sebelum sebuah produksi berjalan. Akomodatif juga diperlukan, tapi ngotot adalah harus.

Tentu saya tetap ngotot untuk meyakinkan Amin kalau yang paling baik bila ingin membuat video kampanye berbasis film dokumenter sekalipun, adalah film yang jujur dan membebaskan. “Bila di kenyataannya, setelah aku dan tim melakukan riset lapangan, tidak semua departemen atau perusahaan milik negara yang harusnya bisa diakses data dan informasinya oleh rakyat yang membutuhkan informasi, menurutku siyh… ya kita tak harus cheating baik di lapangan ataupun di meja editing  dengan mengatakan yang sebaliknya hanya karena beban dari video campaign yang harus POSITIF.”

Saat itu Amin hanya berargumen beberapa, lalu diam.

Dan, sejak itu pula saya mengerti bahwa saya harus melakukan apa yang ‘dipesan’ oleh pemilik duit yang memberi projek.

Projek kali ini adalah tentang UU KEBEBASAN INFORMASI, Undang-Undang tersebut telah disahkan sejak beberapa tahun lalu, tapi kenyataannya di lapangan belum juga diterapkan. Untuk percepatan penerapan UU Kebebasan Informasi tersebutlah VIdeo ini dibikin. Idenya, memberi tahu pada masyarakat bahwa kita berhak dan bisa memiliki akses informasi ke badan publik milik pemerintah bila kita butuh informasi. Dan Badan Publik milik pemerintah, tentu mereka pun harus memberikan apa yang diminta oleh rakyat yang menginginkan transparansi informasi. Bila diminta, mereka harus melayani publik untuk memberikan informasi tersebut. Dari sanalah kalimat, “POSITIF’ untuk kata kampanye tersebut muncul.

Tapi apa yang terjadi di lapangan?

Yang di lapangan terjadi, adalah… Pak Tommy sesungguhnya ditolak oleh Dept. PU Jakarta Selatan ketika ia meminta data ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) proyek jalan layang non-tol Antasari. DEpartemen tersebut tidak mau memberikan transparansi informasi ke warga yang ingin mengaksesnya. Bagi saya, cerita tentang penolakan itu adalah scene yang seru. Bagaimana sesungguhnya Badan-Badan Publik tersebut terus menyalahi Undang-Undang dan bahkan mengabaikannya. Si Tokoh yang dalam hal ini adalah pak tommy pun, bisa terus kita capture perjuangannya. Dan bila pun pada akhirnya Pak Tommy mendapatkan ANDAL Proyek tersebut, itu bukan karena kesadaran DEPT. PU JAKSEL untuk memberikan informasi pada warga, tapi karena pak tommy punya teman yang adalah salah satu dari ketua proyek itu sendiri, di Dept. PU. Teman tersebutlah yang memberi data pada Pak Tommy hingga Pak Tommy bisa mencatat kesalahan-kesalahan ANDAL yang terjadi di lingkungannya dan melaporkan hal tersebut ke Kementrian Lingkungan Hidup.

Tapi apakah anda melihat hal tersebut di dalam video “Jakarta Ketuk PIntu”? – Tentu saja tidak.

Video campaign harus positif! 
Video campaign ya … harus kampanye!”
Itu kata penyandang dana

Dalam bahasa yang saya mengerti..,  itu maksudnya adalah:
“Video campaign harus melakukan propaganda!”

Tentu saja, jelas-jelas saya nggak anti propaganda. Toh rata-rata film dokumenter sayapun film aktivisme yang penuh keberpihakan dan tentu ada kemauan advokasi serta kampanye yang mengagendakan propaganda. Bukan barang haramlah, itu yang namanya propaganda. Masalahnya adalah…, kenapa nggak jujur? Kenapa harus “POSITIF MAKSA”? Kenapa bagian itu – dimana badan publik kita masih pake sistem lama dan cenderung nggak bisa cepet absorb sistem bariu yang lebih bagus dan menuntut transparansi, mengapa itu harus dihilangkan? Saya cuma nggak mau jadi bagian dari sistem yang mengkorup sistemnya sendiri. Saya ingin mengcapture kenyataan dan kenyataan adalah seperti apa yang terjadi di lapangan, bukan di diskusi agenda seting atau di meja di meja editing. Saya ngerti lah tentu kata “positif” yang dimaui klien, tapi secara personal saya nggak ngerti kenapa potif itu harus maksa bener-bener positif?

Gelisah dan terus kepikiran, saya sampai sempet nanya ke si Teteh (Nia) tentang apakah itu “VIdeo Campaign”? Kenapa rasanya bagi saya kok berat ya untuk memotong atau mengedit kenyataan yang harusnya justru dikabarkan? Tentang bagaimana UU Keterbukaan Informasi Publik belum dilakukan oleh banyak badan atau lembaga publik terhadap publik yang ingin mengakses informasi dari mereka. “Apakah semua video campaign harus positif?”

Si teteh sebentar agak diam lalu menjawab pertanyaan saya waktu itu dengan cara bicaranya yang pasti dan tegas seperti a la dia bicara biasanya, “Ya mungkin Cu, lo memang nggak cocok bikin video campaign. Lo terlalu personal mengangapnya.”

“Oh gitu ya,” Jawab saya.

Dari Nia Dinata, sebagai pembikin film, saya telah belajar banyak hal yang pasti nggak diajarkan di kelas-kelas sekolah film oleh para dosen di kelas tersebut. Belajar tentang bagaimana menjadi sutradara, menangani lapangan, mengayomi crew, menggauli teman yang juga adalah mitra, bagaimana cara mencari solusi kreatif di tengah kebuntuan teknis atau budget atau halangan di lapangan yang tak terkirakan sebelumnya… Entah dia sadar atau tidak, tapi saya telah belajar banyak dari dia. Maka sore tersebut ketika menerima jawaban itu… Saya pun cuma mengangguk-angguk kepala sambil berkata seperti yang udah saya tuliskan di atas: “oh gitu ya…” – sebuah cara yang biasa saya lakukan untuk menampung dulu atau menelan satu statement atau pernyataan, untuk diendapkan di kepala lalu dipikirkan sendiri nanti dengan kepala lebih matang saat sendirian…

*** 

Pada akhirnya pendekatan pembuatan video untuk kampanye UU Keterbukaan Informasi Publik tersebut memang dibuat berdasarkan atau seperti pembuatan film dokumenter. Kami melakukan riset, riset visual, riset pra-produksi. Mengikuti moment dan memilih protagonist serta memastikan mereka berkenan untuk diikuti, telah dilakukan sejak dari sebelum pelaksaanaan produksi.

Mengikuti beberapa protagonist yakni Pak Tommy, Warga Pulau Seribu, dan Mas Antony dari Komunitas Pecinta Kereta, Entah saya beruntung atau alam berkonspirasi membantu produksi ini, secara kebetulan pengaduan publik yang dalam hal ini dilakukan pak tommy ke Kementrian Lingkungan HIdup yang adalah lembaga publik, ditanggapi dengan positif. KLH pun datang ke melakukan survey ke kontraktor pembuat jalan layang non tol di antasari. Melalui orang pulau yang seolah di-anak tiri-kan Pemda Jakarta, kita pun melihat bagaimana efek bila informasi tidak diterima publik dengan baik – rakyat bisa ditipu. Dengan cerita dari para pecinta kereta yang mempertanyakan komponen harga tiket, kita pun sampai pada pengetahuan kalau ada tooh rupanya lembaga yang bisa dijadikan tempat publik untuk mengadu bila lembaga publik ngotot tidak mau memberikan informasi yang harusnya dengan sukarela mereka berikan dan bukan malah menyimpannya untuk disembunyikan supaya tak diketahui rakyat.

Senang dan senanglah saya dan tim melihat semua senang di akhir pembuatan project ini pada akhirnya. Klien atau teman dari TIFA senang karena katanya video kampanyenya bagus (makasiyh ya, entah jujur atau tidak aniways :p), si pemberi job Amin teman saya dari Yayasan Ladang Media senang karena pesan yang dimaui untuk disampaikan, katanya: sampai.  Saya dan tim saya Affan dan Sally senang juga karena akhirnya project kelar selesai – dan tentu saja saat project itu kami kerjakan, kami mengerjakannya dengan sungguh-sungguh baik ketika produksi pun di saat post pro.

Pada akhirnya, apapun yang terjadi saya merasa beruntung mendapat project ini dan dianugerahi moment untuk belajar mengevaluasi diri.  Banyaknya pergulatan dalam diri ketika proses, membuat saya berpikir dan mempertanyakan diri saya sendiri serta pekerjaan-pekerjaan di dunia audio-visual yang telah saya kerjakan dan atau yang akan saya kerjakan kelak.

Benarkah saya nggak cocok bikin video campaign dan terlalu personal dalam menganggap sebuah project? Apakah itu bagus – terlalu personal? Ataukah itu jelek? Bagaimana seharusnya seseorang pembuat film pesanan merespon hal itu?

Apakah sebagai partner, TIFA jadinya tak suka pada saya karena saya cenderung suka bawel dan kritis meski pada akhirnya saya akomodatif juga? Mereka mau nggak ngasih saya kerjaan lagi, ataukah kapok? Kalau saya dikasih kerjaan lagi… saya mau nggak? Kenapa saya mau? Kenapa saya nggak? Seperti apa idealnya produksi yang bisa didiskusikan dengan penyandang dana? Ataukah cukupkah penyandang dana hanya memberikan dananya dan menyerahkan serta memercayakan creatif-nya ke orang dan tim yang mereka percaya untuk mereka hire dalam pembuatan produksi video kampanye mereka? …Sedang kalau soal Amin? Amin mah, hehe.. cingcay lah! Dia teman saya dan orangnya sangat oke untuk diajak diskusi. Dia syiiiipppp banget dah! Dan saya tak terlalu merisaukan Amin – partner dari Ladang Media dalam hal ini.

Diri saya. 
Pandangan-pandangan saya. 
Pikiran-pikiran yang kelayapan di kepala. 
Pergulatan yang entah pada akhirnya penting atau tidak – tapi nyatanya sangat penting ketika waktu terjadinya…

Itulah yang menggangu saya baik ketika proses pembuatan dilakukan, juga sesaat setelah project itu kelar dibikin.  Karena oh karena… Sebenarnya saya sangat ingin tahu bagaimana kepala para sutradara lain menghadapi hal sama yang saya hadapi di atas? Bagaimana respon mereka terhadap ‘pesan-pesan’ pendana? Biasa saja dan manut karena bagaimanapun ‘ini adalah pesanan’? atau… berargumen dulu dan menyatakan ketidaksetujuannya serta tak langsung serta merta menyerah pada keingin klien Begitu saja? Bagaimana cara berkompromi yang baik dengan diri sendiri? Apakah saya terlalu naif? Ataukah naif yang seperti itu justru bagus supaya kita tak kehilangan diri kita sendiri, meski kita sedang mengerjakan project ‘orang’? Se-personal apa kita sebagai pembuat boleh dan bisa terlibat dalam project orang tapi yang dikerjakan oleh kita? Apa itu arti kolaborasi? Kenapa saya harus selalu menuntut: bekerja-sama, dan bukannya bekerja-untuk?

Dan marilah sedikit berandai-andai untuk sedikit membuat pertanyaan-pertanyaan itu jadi tak terasa berat…

Mungkin… Ya, mungkin kalau saya sutradara iklan atau mengerjakan hal yang sifatnya komersial, ya sudahlah…. Namanya juga buruh pelacur. Tinggal lakukan saja apa yang diminta ‘asal klien senang’ tentu bukan hal yang susah. 

Ya… mungkin memang ini adalah andai-andai saya yang salah, tapi mungkin… mungkin bila saya terjun ke dunia itu, saya pasti sudah mengerti betul dan mempersiapkan mental ‘jual jiwa’, ngosongin dulu idealisme di dunia aktivisme yang jadi background saya karena jelas…. di dunia komersial, saya udah jelas akan dapat bayaran duit yang banyak dari kerjaan yang cuma dua tiga hari suting lalu bisa dipake untuk biaya libur lebih adri semingguan di Ubud. Ini kita bicara  soal.. Mungkin ya…

Lah tapi? 

Bagaimana kalau.. ini cuma kalau ya,…
Bagaimana kalau itu terjadi di dunia NGO, aktivisme, dan segala hal yang katanya jauh dari hiruk-pikuk dunia komersial? Bahwa kita tidak di-hire dengan uang yang ‘layak’ dan selalu dibilang ‘ini untuk sosial’ tapi kita juga ternyata hanya jadi penjual tenaga yang harus ‘mengosongkan jiwa’? 

Hhh…
*[tarik nafas panjang]…

Baiklah!
Mungkin benar apa yang aku dan lucky pernah baca di toko buku aksara tentang tak ada baiknya mempertentangkan antara film art dan film commercial sebagaimana mungkin tak usah terus-terusan khawatir memperbandingkan yang idealis-independen dan yang komersil, hanya saja… Rasanya lega! Ya, rasanya lega akhirnya bisa juga untuk sempat menuliskan sekian banyak pertanyaan dan kegelisahan personal yang udah dipendam lama dan ingin dipertanyakan keluar dari kepala ini di blog pribadi  milik saya sendiri; pertanyaan-pertanyaan selama berproses di dunia audio-visual khususnya dokumenter; pertanyaan-pertanyaan yang pastinya kelak entah sapai kapan, mungkin akan terulang dan terjadi lagi; pertanyaan-pertanyaan yang menyertai fase saya dalam memahami lebih dasar tentang apa arti membuat karya dan terus memberdayakan jiwa…***

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

3 thoughts on “Kegelisahan Personal *Belajar Dari Produksi "Jakarta Ketuk Pintu | Knock Knock Jakarta"

Leave a comment