THE ACT OF KILLING : PENTING DAN BAGUS!

Ini film penting dan harus ditulis: THE ACT OF KILLING. Disutradarai Joshua Openheimer antropolog lulusan harvard yang mefokuskan study-nya di bidang genocide, film yang dibikin 7 tahun  dan berlokasi di medan yang bercerita tentang para preman yang membantai anggota PKI ini membuat saya mengerti apa arti film dokumenter yang ‘PENTING DAN BAGUS’.

Banyak film dokumenter yang sudah saya lihat. Dari yang cantik indah macam La Jetee, Sans Soleil dari Chris Marker. Film yang sangat human interest seperti Grizzlyman atau Four Women One Men.  Film yang penuh emosi dan membawa kita pada pengalaman visual sekaligus macam Last Train Home atau film-filmnya Leonard Reitel. Film aktivisme yang kuat dan cara bertutur indah macam Gas Land dan Waste Land. Film aktivisme yang garang macam 11/9 fahrenheit atau Ghost of Abu Ghuraib atau juga yang pake teknologi animasi seperri Walzt with Bazir – tapi tidak pernah saya melihat film dokumenter yang seganas plus seciamik ini: THE ACT OF KILLING. FILM PENTING DAN BAGUS!

Seorang teman saya yang memicu pertanyaan kritis ini semalam. Berdasarkan tulisan Aryo  yang mempertanyakan kenapa film tentang PKI atau peristiwa tahun 65 di indonesia  yang kuat dan dibicarakan banyak orang justru film yang mengambil sisi angle dari si pelaku? kemana film-film dari sisi angle korban ? kenapa tidak banyak dibicarakan? 

Seperti biasa Dhyta dengan gaya bicaranya yang menggebu-gebu, bilang, mungkin alasan tentang kenapa film dari angle korban tidak begitu banyak dibicarakan,  karena memang mungkin kalau dari sisi korban cuma ada pengakuan dan interview tentang peristiwa dari sudut si saksi sejarah dimana kita juga sudah tahu. Sementara saya ngotot karena menurut saya sebagai filmmaker, harus saya akui memang belum ada film bagus yang dibuat serius tentang peristiwa PKI dan 65 di Indonesia tersebut. The Act of Killing sangat serius dalam membuatnya. Sedangkan Chika berargumen bahwa film dari angle korban mungkin selama ini sering kita dengar, begitu angle datang dari si pelaku sendiri  maka kekuatan, kedahsyatan dosa, ke-fresh an sudut pandang dalam artian kita jadi bisa melihat sisi yang lain pun otomatis jadi terbuka, dan itu yang belum pernah terjadi. Inilah yang membuat THE ACT OF KILLING menjadi begitu kuat. Lalu Nia dan saya lagi-lagi sepakat bahwa bukan semata hal itu, tapi juga harus diakui lah, THE ACT OF KILLING memang memenuhi apa-apa yang disebut dan dibutuhkan sebagai sebuah film yang bukan cuma bertugas mendokumentasikan tapi juga memiliki segenap apa yang dubutuhkan untuk sesuatu yang disebut sebagai film: ada story yang kuat, ada karakter yang tepat dan kuat, ada drama, ada gambar bagus dan cantik, ada pemandangan sureal yang membawa kita pada pengalaman bersinema, ada kesadisan yang mengcapture dengan jelas peristiwa yang terjadi pada waktu itu melalui cerita film anwar congo cs yang dibuat di dalam film The Act Of Killing. 

Mau apalagi? Film yang dibikin sebelumnya, mungkin tidak dibikin ngasal memang, tapi memang racikannya tidak sedahsyat racikan THE ACT OF KILLING yang memang menganggu dan membuat orang yang se-senior Errol Morris aja seolah diajarin oleh cara si pembuatnya dalam bertutur lalu menggumam sendiri: “Oh bisa ya… film dibikin dengan cara begini?” . Alih-alih interview dan capturing moment dengan cara yang biasa dipakai banyak pembuat film, Joshua malah mempersilahkan para protagonistnya untuk bikin statement melalui film yang mereka bikin sendiri cerita dan pengarahannya. 

Sementara dari  sisi perspektif hukum dan kenyataan politik, Faiza memberi pendapat, menurutnya, karena  tidak seperti peristiwa auswich yang dilakukan NAZI  dan membuat NAZI dikutuk di seluruh dunia dan pengutukan tersebut dikuatkan dengan statement PBB, peristiwa pembantain PKI tahun 65 di Indonesia bahkan belum diakui sebagai peristiwa tragedi dunia. “KOMNAS HAM aja bahkan baruuu saja mengeluarkan statement permintaan ke PBB untuk menyatakan bahwa peristiwa ’65 pembantaian PKI di Indonesia adalah peristiwa kejahatan kemanusiaan yang harus dikutuk dan diakui dunia, baru tahun 2012 ini”, ucapnya. Dan itulah yang menurut Faiza salah satu alasan yang membuat film tentang PKI atau peristiwa 65 di Indonesia yang dibuat dari sudut pandang korban menjadi tidak begitu banyak dibicarakan. 


Apapun argumen yang bergulir, bagi saya snediri, malam itu melalui film THE ACT OF KILLING saya belajar tentang sesuatu. Tentang Film dokumenter yang PENTING DAN BAGUS. Documentary selama ini masih di pinggiran. Para kurator suka dengan sombong bilang kalau “ah, filmnya siyh biasa. tapi isunya penting’ atau ‘ya gitu deh… gambarnya bagus tapi cerita nggak ada. konflik dan isu yang mau diangkat apa?”  atau… “Bagus siyh isunya ada, penting juga, tapi home made banget, pengalaman bersinemanya nggak ada”. *EAAAAAAAAAA…….. !!!!  Saya siyh seneng-seneng aja kalau film saya diejek atau digituin, tapi yang jelas pasti akan lebih seneng kalau bisa membuat film yang kayak Joshua bikin: Film penting – maha penting untuk indonesia, dan… BAGUS! SANGAT BAGUS!


Semalam, teman saya juga ngasih tahu kita kalau dalam tulisannya Aryo me-listing sekitar 18 film yang berbicara tentang periwtiwa 65 dari sudut pandang korban (*sialnya, saya kok belum menemukan tulisan aryo ini di internet sampai sekarang yak), sementara cuma 1 saja dari sudut pandang pelaku, dan apa hendak dikata, justru yang dari sudut pandang pelaku inilah yang mendapat spotlight dengan hebat dan dengan hebohnya. Baik di Indonesia, maupun di dunia internasional.

Maka semalam kita pun mulai me-list film peristiwa ’65 yang kita tahu:
1     Massgrave
2     40 years of silence
3     Tjidurian 16
4     Filmnya pak Putu Oka
5     ?

Dan kalau memang iya ada 18 film dokumenter dari angle korban dan cuma 1 film dari angle pelaku dan itu sangat penting dan bagus untuk di share dan didengar-dilihat, pertanyaannya kemudian: lalu siapa yang akan melihat perspektif korban? siapa yang akan mendengar suara korban? mau dikemanakan  jargon para pembuat film dokumneter yang sejauh selalu menggemakan bertumpu di sudut korban dan menggemakan pamfle kalimat  ‘the voice of vioceless’ , ‘the eye of unseen’, dll sebagainya itu?


Kalau saya siyh, kalau pertanyaan itu dilempar ke saya, secara personal jawabannya lagi-lagi: MEMANG BELUM ADA YANG SERIUS MEMBUAT FILM DARI PERSPEKTIVE KORBAN KOK! JOSHUA OPHENHEIMER tidak diragukan lagi sangat berbakat dan sangat paham akan apa yang mau dia bicarakan dalam film yang diarahkannya. Salute saya padanya!




Semua yang dibikin Joshua sangat serius. Serius dalam artian  kuat di riset dan data, kuat dalam searching karakter hingga bisa menemukan protagonist yang kisahnya sangat istimewa tapi belum terbagi dan sekaligus juga ia bisa bercerita dari angle yang sangat menarik (semacam anwar congo Cs), memiliki konsep pembuatan fillm  yang matang baik di content dan kreatif, juga tentu budget yang memadai untuk sebuah produksi kreatif yang diinginkan (ingat ya, THE ACT OF KILLING berdasarkan IMDB, dibuat dengan budget 1juta dolar. Sementara film dokumenter di indonesia kalau biaya produksinya bisa sampai budget 100ribu dollar aja itu udah oke banget! Dan tentu, ini dia yang sangat saya acungi jempol dari Joshua: His aproach to protaganist! Dahsyat! Dia bisa sedekat itu dengan para tokoh dalam filmnya…


Tapi anyways… meski saya saya ingin bercerita banyak tentang film THE ACT OF KILLING, pagi ini saya cuma merasa terusik aja. jadilah saya bikin catatan ini sebelum lupa. sebuah catatan yang cuma ditulis tak lengkap dan sekilas. karena sebenarnya saya belum boleh menulis ini… hehe. Film THE ACT OF KILLING baru akan datang ke Indonesia bulan Oktober nanti, dan belum tahu apakah Joshua bisa hadir atau tidak…

Tapi lagi-lagi yang jelas, kami punya keinginan untuk memberitakan dengan dahsyat keberadaan film ini kelak. kelak ketika film THE ACT OF KILLING sudah resmi beredar di Indonesia. semua orang harus nonton film penting dan bagus yang satu ini. Pemerintah, aktivis pro demokrasi, korban, warga dll, saya pikir akan berterimakasih karena pada akhirnya film ini muncul dan datang di saat ketika masayarakat kita udah mulai lupa dengan peristiwa 65. 

Saya masih muda, saya tidak hidup di masa itu ketika pemerintah ORBA mengejar-ngejar para anggota PKI, tapi saya nggak buta lah untuk tahu kalau soalan itu sampai kini bahkan belum selesai. jadi yang paling realistis yang bisa kita lakukan yakni membangkittkan kesadaran tentang betapa pentingnya film ini untuk disebar di bukan hanya di tempat-tempat dimana para aktivis bersarang, tapi justru di tempat-tempat dimana masyarakat awam dan para anak muda yang masih belum mengerti ‘politik’ bangsanya , harus diajak untuk mulai melek. THE ACT OF KILLING Harus diputar di kampus-kampus, juga di pusat-pusat kebudayaan yang bisa diakses oleh public.

Pertanyaannya, adakah pihak yang gatel untuk membuat pencekalan terhadap film ini?

Kita harus berani!
Meskipun akan dilarang, kebenaran harus disebar! 

Film ini memang belum melakukan premiere-nya di Indonesia, tapi yang pasti, gempita sambutan positif dan negatifnya, telah terdengar. Kami mensupport dengan sangat, tapi juga selalu ada pihak yang tak senang dengan kabar-kabar kebenaran***


______________________________


Judul         : Jagal |  ”The Act of Killing”) 

Sutradara     Joshua Oppenheimer
Produser      Signe Byrge Sørensen
Musik           Elin Øyen Vister
Sinematografi     Carlos Arango de Montis ADFC, Lars Skree
Editing           Niels Pagh Andersen, Janus Billeskov Jansen, Mariko Montpetit, Charlotte Munch Bengtsen, Ariadna Fatjó-Vilas Mestre
Distribusi     Cinephil
Durasi          149 min. (director’s cut)/115 min
Negara         Norwegia, Denmark, Inggris Raya
Bahasa         Indonesia

Sinopsis

Ketika pemerintah Indonesia digulingkan oleh militer pada 1965, Anwar dan kawan-kawan ‘naik pangkat’ dari preman kelas teri pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan intelektual, dalam waktu kurang dari satu tahun. Sebagai seorang algojo dalam pasukan pembunuh yang paling terkenal kekejamannya di Medan, Anwar telah membunuh ratusan orang dengan tangannya sendiri.

Hari ini, Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan pembunuh itu. Organisasi ini begitu kuat pengaruhnya sehingga pemimpinnya bisa menjadi menteri, dan dengan santai menyombongkan segala macam hal, dari korupsi dan mengakali pemilu sampai melaksanakan genosida.

Jagal bercerita tentang para pembunuh yang menang, dan wajah masyarakat yang dibentuk oleh mereka. Tidak seperti para pelaku genosida Nazi atau Rwanda yang menua, Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka justru menuliskan sendiri sejarahnya yang penuh kemenangan dan menjadi panutan bagi jutaan anggota PP. Jagal adalah sebuah perjalanan menembus ingatan dan imajinasi para pelaku pembunuhan dan menyampaikan pengamatan mendalam dari dalam pikiran para pembunuh massal. Jagal adalah sebuah mimpi buruk kebudayaan banal yang tumbuh di sekitar impunitas ketika seorang pembunuh dapat berkelakar tentang kejahatan terhadap kemanusiaan di acara bincang-bincang televisi, dan merayakan bencana moral dengan kesantaian dan keanggunan tap-dance.

Pada masa mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Anwar dan kawan-kawan adalah pengagum berat James Dean, John Wayne, dan Victor Mature. Mereka secara terang-terangan mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan kawat.

Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah.

Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.

Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.

Yang paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara bayangan tentang moral dengan bencana moral.
Produksi

Film ini sebagian besar gambarnya diambil di sekitar Medan, Sumatera Utara, Indonesia antara 2005 sampai 2011. Pengambilan gambar dan wawancara selama tujuh tahun ini menghasilkan kurang lebih 1.000 jam rekaman. Diperlukan banyak editor dan waktu satu setengah tahun di London dan Copenhagen untuk menyunting rekaman tersebut menjadi film ini. Penyuntingan suara dan koreksi warna dilakukan di Norwegia.
Pranala Luar.


source: http://id.wikipedia.org/wiki/Jagal

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

One thought on “THE ACT OF KILLING : PENTING DAN BAGUS!

Leave a reply to Unknown Cancel reply