Primigavida 0 & Time Traveler#1

Hai time traveler..
Sedang berada di posisi mana saat ini?
Kamu baik-baik saja kan?

Kuharap kamu baik-baik dan setiap pagi sejak saat itu, kamu udah mulai bisa merasakan bahwa planet tujuanmu akan dan pasti bisa kamu capai. Be optimistic! Si ayah dan aku juga orang nya optimis meski kadang tentu saja kami juga suka merasa lelah..

Pejalan waktu, kamu suka berpikir apa saat ini? Sudahkah kamu mulai bisa berpikir? 

Aku mulai berpikir tentang kita, tentang bagaimana sekarang aku mulai merasa menyesal dengan gaya hidupku yang mungkin cara makannya nggak sehat, yang mungkin dulu sempet senang-senang jadi perokok sosial, yang mungkin sangat jarang minum air putih dll lifestyle yang kini kukhawatirkan akan berpengaruh pada keberadaanmu. Bagaimanapun.. meski kita belum bertemu dan masih harus meniti waktu terlebih dahulu untuk bisa berjumpa kelak, kamu adalah bagian dari aku dan aku adalah bagian dari masa laluku. Kamu, tentu juga bagian dari si ayah. Dia yang telah memikatku dan membuatku bersedia untuk berenang bersama di laut kehidupan di salah satu planet di galaksi ini. Dia, adalah orang yang bukan hanya membuatku senang meluangkan waktu bersama,tapi juga yang aku yakin bersamanya aku mau menunggu kamu untuk datang dari masa depan untuk bersama kita membuat masa depan.

Gimana rasanya belum tahu apa-apa tapi udah mengerti apa-apa? 

Kamu pasti embrio yang cerdas dan kuat. Mampu bersaing dalam skala jutaan itu adalah prestasi hebat! Selamat ya, telah berhasil sampai di tahapan ini. Kupikir aku juga harus mengucapkan selamat bukan hanya untukmu, tapi juga untuk aku dan si Ayah. Kami mohon, terus berjuang dan jadilah pejuang yang kuat ya.. yang kuat untuk tetap berjalan melalui bulan demi bulan  dalam peredaran perjalanan kamu ini.. Kuharap kamu juga bisa cukup kuat untuk bertahan dengan sehat dan tiba sebagai time traveler yang bahagia jiwa raga serta tak kekurangan apapun.

Sudahkah kamu mulai mendengar suaraku? Kalau setiap pagi dan malam kamu mendengar suara perempuan yang mungkin di telingamu saat ini belum begitu jelas sinyal suaranya, kalau sekarang-sekarang ini kamu mulai mendengar suara-suara musik instrumentalia diperdengarkan dekat-dekat ke kupingmu..itu adalah aku yang melakukannya. 

Setiap hari aku coba berkomunikasi sama kamu, itu saja tujuanku. Aku mau kamu tahu bahwa kamu kuperhatikan dan aku ada untuk mu. Ngeh nggak kalau aku suka ngomong di pagi hari dan waktu malam? Sama siapa kalau nggak sama kamu, coba… Kuharap, suatu hari kalau kamu sudah cukup kuat, kamu akan membalas sapaanku. Nanti kan kuceritakan sama si Ayah kalau kamu mulai ngajak-ngajak aku ngomong dan kirim-kirim sinyal kehidupan yang makin mendekat..

Oh ya, aku semalam sangat senang… Si Ayah untuk pertamakalinya kirim kiss buat kamu. Aku khawatir dan juga agak bersedih buat dia sebenarnya. Aku khawatir membuatnya terlalu tertekan dengan keinginanku membuatkanmu perjalanan menuju kami. Si Ayah orang baik, lelaki termanis dan paling mengesankan yang pernah aku kenal. Dia mengajariku tentang berhitung dengan cara senang dan riang, membuatku melihat bahwa menjadi ilmuwan bukanlah perkara yang terlalu serius serius amat.. Menghitung cahaya di galaksi adalah perkara menyenangkan yang bisa juga bikin kesel karena kerjanya melulu nungguin data dan cuma menunggu data running selama proses programing. “Kerjaan Monyet”, begitu si Ayah kalau lagi sebel menyebut pekerjaannya. Si Ayah nggak sadar, kalau kerjaan monyetnya yang mengkalkulasi spektrum cahaya di galaksi adalah pekerjaan luar biasa yang kalau berhasil, tentu saja akan memukau dunia. Aku adalah dunia, dan apa yang dilakukan si Ayah telah memukauku. Dalam hal ini aku berkata jujur dan independen bukan semata karena aku bininya maka aku memujinya, tapi sungguh…karena tidak semua orang memiliki bakat itu. Hanya saja si Ayah kurang mempromosikan dirinya, dia juga nggak tahu bagaimana cara bikin publikasi yang bagus tentang apa yang dikerjakannya.. Pokoknya, kalau suatu hari saat kelak kamu udah tiba di sini, kamu dengan sendirinya akan mengerti mengapa aku memilih si Ayah sebagai salah satu jalan hidup yang kutempuh, …yang kelak akan kita tempuh. Bersamanya, bintang-bintang bukan hanya terlihat menari di langit, tapi juga bercahaya di jendela rumah.


Hi kamu time traveler,
Masih jauh ya perjalananmu?

Tabah ya… 

Tepatnya, mari kita sama-sama tabah. Aku harus tabah dan lebih sabar dengan diriku. Rasanya, menyambut kedatanganmu pasti akan jadi kelas belajar yang seru. Aku ingin menuliskannya selama proses ini, dan aku ingin kamu tahu kalau aku menunggumu. Sangat menunggu kamu tiba dengan selamat di bumi ini.

Orang-orang saat ini menyebutku Primigavida. Aku sendiri merasa antusias dan senang campur takut menyambut semua ini. Kadang aku suka merasakan hal-hal yang tak kumengerti dan baru kurasakan untuk pertamakalinya. Misal, ada yang terasa sakit di bagian bawah perut sebelah kiri, dan tetiba aku jadi khawatir. Rasa sakit dan khawatir adalah dua hal kompleks yang kalau menyatu membikin perasaan jadi nggak enak. Lalu biasanya aku akan browsing internet karena aku nggak tahu harus bertanya ke siapa. Aku biasanya paling cerita ke Si Ayah atau ngobrol-ngobrol sama dia setelah browsing di Internet. Saat  internet bilang rasa sakit yang seperti itu tak apa-apa itu normal sejauh tak ada pendarahan, aku berasa lega. Tapi karena serentetan hal-hal baru yang kurasakan ini pasti masih banyak kan terjadi & kuhadapi di depan, aku merasa aku nggak pede. Jadinya aku merasakan perasaan galau yang berkecamuk terus-terusan. Mungkin ini urusan hormonal. Rasanya nggak gitu nyaman, sakit di perut itu adalah campuran antara perasaan mulas, selalu ingin pipis, kembung melulu, serta semacam perasaan saat akan menstruasi tapi ini datang bulannya tak kunjung tiba. Datang bulan kan harusnya tiap bulan ya.. Nah, saat bulan tersebut tak datang-datang dan itu artinya adalah gejala dari sebuah pergantian atau kode yang memberitahu ada perubahan yang sedang terjadi, ya sebagai gantinya: adukan campuran perasaan yang muncul dan tadi tlah kusebutkan. Membuatku nggak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Agak kacau gitu deh… 

Time travelerku,

Hari ini aku dan Tante Vero membereskan barang-barang milik kami. Sebentar lagi kami akan pindah rumah. Aku sekarang tinggal di sebuah rumah lantai dua yang telah cukup lama aku tinggali. Pemiliknya bilang, rumahnya nggak dia sewakan lagi. Kontrakan baru adalah rumah satu lantai. Dan belakangan mengetahui fakta ini sambil menunggumu, aku lumayan senang. Setidaknya rumah satu lantai tak akan membuatku jatuh terpeleset saat menaiki tangga dan meresikokan perjalananmu menempuh waktu. 

Selain tangga licin yang tak ada, ada hal menyenangkan lain di kontrakan baru ini: tukang jajanan! Rumah makan padang tempat aku biasa pesan rendang untuk dikirim ke si Ayah di Jerman, tepat di sebarang kontrakan. Tukang bakso enak, selalu datang tiap sore menjelang malam menyender di talang pagar. Tukang sayur berhenti pagi-pagi di persimpangan gang tepat di depan rumah. Juga warung cecep yang semacam toko indomaret tapi bukan milik si Liem Swi Liong melainkan hanya toko kelontongan kecil milik orang Tasikmalaya perantauan Jakarta.  

Dengan sebegitu banyaknya barang, pindahan sudah bukan rahasia adalah hal yang tak menyenangkan. Tapi berpindah ke tempat yang lebih beradab semoga saja membuat kami lebih hepi walaupun kami sadar di tempat baru di sana nanti pasti akan berisik sekali. Nah, waktu beberes tadi, Tante Vero nemuin artikel di koran bulan Juli tahun 2003. Isinya tentang bagaimana Bagaimana Melakukan Pemeriksaan Genetika Untuk Sang Janin. Hmm…

Sebagai Primigavida aku harus katakan aku sangat menunggumu meski kusadari ini bukanlah berada di waktu yang aman. Tahun ini usiaku akan masuk hitungan 4 ditambah Nol di belakangnya. Banyak hal-hal menakutkan yang kubaca di internet dan koran. Dari riset kesehatan tentang perempuan mengandung di usia 40 dan aneka risikonya. Aku tahu perjalananmu memang bukan hal yang mudah... Hanya saja andai kau kenal yang namanya cinta, sebagaimana aku–ibumu, kau pun pasti suatu hari kan tahu bahwa hal itu akan mencukupkanmu.

Dengan berpikir tentang keberadaanmu  serta gelombang energi cinta dan dukungan si Ayah, aku tahu kita berdua pasti akan baik-baik saja. Kita pasti akan berkumpul bersama suatu hari nanti setelah perjalananmu melalui waktu berhasil kau tuntaskan. Dan hai kau Pejalan Waktu… Jangan khawatir. Meski masih lama untuk kita bisa berjumpa, tapi aku tahu kamu dan aku akan kuat dan sabar serta setabah Kepler 425B yang menunggu ditemukan untuk hanya diketahui orang-orang di bumi ini bahwa planet biru kami punya kembaran.

Sehat-sehat ya di sana...

Aku akan kirimi kamu makanan enak sehat, serta kan berusaha sekeras mungkin tuk sediain tempat tinggal yang nyaman dalam perjalanan di galaksi yang jauh tapi begitu dekat itu.



– Utan Kayu, 26 Januari 2016

PS:
Oh ya, dari artikel koran tempo yang diberikan Tante Vero tadi siang, ada nama dokter yang ibu telah stabilo: Dr. Noroyono Wibiwo. Pada dia, kita akan banyak bertanya. Melalui dia, aku kan tahu banyak tentang kabar dan keadaanmu…

Tunggu surat surat aku berikutnya ya.

Published by Ucu Agustin

Indonesian documentary filmmaker based in Washington DC, United States, and Jakarta, Indonesia.

Leave a comment